Pages

Tampilkan postingan dengan label sad love song. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sad love song. Tampilkan semua postingan

22 Februari 2012

Sad Love Song 21-End


Di tempat kenalan Charlie, Hae-in merawat Joon-young dengan telaten sehingga membuat pemuda itu merasa bersalah. Keragu-raguannya membuat Charlie marah, dengan keras ia mengingatkan bahwa satu-satunya pria yang dicintai gadis itu adalah Joon-young.

Setelah membereskan barang-barangnya, Hae-in menemui Gun-woo untuk mengutarakan semuanya. Adegan itu rupanya terlihat oleh Joon-young, yang salah-sangka dan kemudian melangkah pergi dengan gontai. Rupanya, Gun-woo sudah tahu apa yang menyebabkan Hae-in ingin meninggalkannya, dan meminta supaya bisa bertemu pria saingannya.

Namun, permintaan itu ditolak Hae-in yang tidak ingin hati pria itu semakin sakit. Mendengar itu, Gun-woo ngotot bakal menunggunya sampai kapanpun. Berlari pulang, Hae-in mendapatkan kamar Joon-young sudah kosong. Pria yang dicari sendiri malah belakangan jatuh pingsan di pinggir jalan, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Rupanya luka Joon-young sangat parah, ginjalnya terluka hingga harus dioperasi. Hae-in yang datang belakangan hanya bisa termangu mendengar kabar itu, apalagi Hwa-jung yang ada disana menyebut semua adalah kesalahan gadis itu yang menyebabkan hidup Joon-young menderita. Saat berdoa, ia berjanji bakal meninggalkan pemuda itu asalkan operasi berjalan sukses.

Taktik licik Hwa-jung tidak hanya sampai disitu, ia menghubungi Gun-woo dan memberitahu kalau Joon-kyu terbaring di rumah sakit. Keruan saja pria itu bergegas kesana dan saat membuka pintu kamar, ia kaget melihat Hae-in ada disana. Lebih terkejut lagi, ia mendengar gadis itu memanggil nama pria itu dengan Joon-young.

Begitu sadar, hal pertama yang diingat Joon-young adalah Hae-in, ia meminta Charlie untuk mencarikan gadis itu.Namun, ia terkejut saat mendengar pria itu memberitahu kalau kekasihnya mungkin tidak bisa datang, dan terus mendesak.

Rupanya, Hae-in memutuskan untuk kembali ke sisi Gun-woo demi menebus semua kesalahannya. Pria itu sendiri akhirnya setuju kembali ke perusahaan ayahnya Jun-il, dengan syarat dirinya diijinkan menikahi Hae-in. Saat keduanya muncul di rumah sakit, Joonp-young begitu terpukul mendengar semuanya.

Begitu keluar dari rumah sakit, Joon-young meminta waktu bertemu Hae-in, dan menyebut bahwa hanya melihat wajah gadis itu telah membuat dirinya puas. Kembali bekerja dengan Gun-woo, ia merasa bahwa sahabatnya tersebut mulai bersikap aneh tanpa sadar kalau Gun-woo telah mengetahui identitas sebenarnya.

Keesokan harinya, Gun-woo sengaja membuat Joon-kyu menunggu lama sampai bisa bertemu dengannya. Jawaban dari semua misteri perubahan sikapnya tersebut akhirnya terbongkar diatas atap sebuah gedung ketika Gun-woo memanggilnya dengan nama Joon-young.

Dengan nada keras, pria itu meminta sahabat yang telah menjadi rivalnya itu untuk datang ke pesta
pertunangan keesokan harinya, sebelum kemudian menghilang dan tidak mengganggu lagi. Bisa dibayangkan bagaimana perihnya hati Joon-young, yang harus membawakan lagu di acara pertunangan wanita yang dicintainya dengan pria lain.


Melihat Joon-young menyelinap keluar, Hae-in langsung bergegas mengejar namun terlambat, pria yang dicintainya itu telah pergi. Untuk melupakan kesedihannya, Joon-young merenungi nasibnya di pinggir telaga dekat pondok kenangannya bersama Hae-in.

Menurunkan Hae-in didekat rumahnya, diam-diam Gun-woo mengikuti Hae-in yang naik taksi untuk pergi ke suatu tempat. Benar dugaannya, gadis itu menemui sahabat baiknya dan berusaha membujuk pria itu pulang. Betapa marahnya Gun-woo begitu melihat keduanya bersama, dan dengan kasar menarik Hae-in keluar.

Namun, Joon-young juga tidak membiarkan Hae-in pergi begitu saja dan menyebut tidak akan melepas gadis itu bila diperlakukan kasar. Akibatnya, mereka terlibat adu pukul dan hanya berkat Hae-in kejadian yang lebih parah bisa terhindari.

Hae-in hanya bisa menyesali nasibnya yang terjebak diantara cinta dua orang pria, apalagi Joon-
young menanyakan untuk terakhir kalinya apakah gadis itu bahagia bersama Gun-woo. Ia berbohong dengan mengatakan YA, namun hanya didepan Audrey semua isi hatinya dicurahkan.

Meminta Hae-in untuk melupakan semua kejadian diantara dirinya dan Joon-young, Gun-woo semakin tekun bekerja. Hasilnya, sejumlah idenya dinilai cemerlang oleh pimpinan perusahaan sekaligus ayahnya Jun-il sekaligus mengancam posisi kakak iparnya Oh Sang-jin



Menelepon Audrey untuk mengecek keadaan Hae-in, Gun-woo terkejut saat tahu kalau gadis itu tidak pulang sejak semalam. Saat kembali ke rumah sang bibi, dengan jujur Hae-in mengatakan tidak bisa melupakan Joon-young. Ia memutuskan untuk menemui Gun-woo, dan membeberkan bahwa meski sudah berusaha, ia tetap tidak bisa mencintai pria itu.

Sambil duduk di pesisir, Joon-young memberikan sebuah cincin yang sudah disimpannya sejak pergi ne New York untuk mencari Hae-in. Sambil menyematkan cincin tersebut, pemuda itu meminta supaya keadaan keduanya bisa kembali seperti saat mereka belum berpisah, dan menciumnya dengan mesra.

Tidak hanya itu, ia memutuskan pergi ke New York untuk menenangkan diri. Sadar kalau keponakannya tidak akan mengubah keputusan, Audrey mendatangi Joon-young, menjelaskan semuanya, dan memberi surat dari Hae-in. Menyusul ke pondok tempat mereka biasa bersama, mereka akhirnya bertemu di pinggir pantai.

Memutuskan untuk menghabiskan malam itu bersama Joon-young, Hae-in yang ditelepon Audrey memaparkan bahwa setelah beberapa hari ia bakal kembali. Di tempat lain, Gun-woo mengancam Shin-hee untuk tidak lagi membantu Joon-young.


Mendatangi Audrey, Gun-woo berusaha mencari tahu keberadaan Hae-in dan semakin bertambah curiga saat wanita itu dengan gugup mengatakan kalau sang keponakan pergi sendirian. Ia sadar kalau besar kemungkinan Joon-young berada disisi wanita yang dicintainya itu.

Kembali ke tempat kerjanya, Joon-young langsung dicegat Gun-woo dan ditanya seputar keberadaan Hae-in. Bisa ditebak, keduanya langsung terlibat perkelahian karena sahabat sekaligus rivalnya itu menolak buka mulut mengingat perlakuan buruk Gun-woo. Adegan itu terhenti oleh kemunculan Kang-in ayah Gun-woo.

Frustrasi karena tidak juga mampu melacak keberadaan gadis yang dicintainya, Gun-woo meminta tolong pada kakak iparnya Sang-jin, yang kemudian menyuruh anak buahnya Mi-young. Keduanya sendiri memiliki motivasi masing-masing, Sang-jin berencana merebut posisi Kang-in sebagai direktur utama, sementara Mi-young berharap bisa naik pangkat.

Joon-young mulai meneruskan pekerjaannya menulis lagu yang kemudian ditawarkan ke sejumlah eksekutif perusahaan. Meski berulang kali ditolak ia tetap tidak menyerah, baginya yang terpenting adalah bisa hidup bahagia bersama Hae-in.

Namun kebahagiaan mereka tidak bertahan lama, Mi-young yang diutus oleh Sang-jin berhasil melacak keberadaan Hae-in dan melaporkannya. Gun-woo langsung menyusul dan tanpa memperdulikan protes gadis itu, mengunci pintu dan melarikan Hae-in pergi.


Ucapan itu membuat Gun-woo membuka pintu mobilnya, Hae-in langsung berlari dan begitu Joon-young yang mengejar dengan taksi muncul, pria itu langsung dipeluk sambil mengucapkan kata cinta. Kembali ke apartemen, Audrey yang sudah maklum menyambut keduanya dengan tangan terbuka.

Mendengar Joon-young berjanji bakal membahagiakan Hae-in, Audrey tersenyum lega. Saat sampai dirumah, Gun-woo mendapat masalah baru setelah perusahaan ayahnya Kang-in diperiksa pihak berwajib karena diduga melakukan penggelapan pajak. Rupanya, semua itu dikarenakan ulah Sang-jin.

Setelah mengembalikan uang kontrak ke Gun-woo, Joon-young yang tmenemukan apartemenbaru membawa Hae-in ke studio untuk memulai proses rekaman. Gun-woo sendiri akhirnya mengaku pada Shin-hee bahwa meski berat sekali, namun ia telah merelakan sahabat dekatnya Joon-young bersatu kembali dengan Hae-in yang dicintainya.

Akibat berbagai masalah yang menimpanya, Kangin jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Gun-woo begitu terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya itu. Belakangan, Sang-jin terpilih sebagai pengganti sang presiden komisaris, hal ini tentu saja membuat bawahannya Jin-pyo senang karena cita-citanya memegang jabatan tinggi semakin dekat.

Niat Joon-young untuk kembali mengorbitkan Hae-in menjadi penyanyi terkenal kembali dapat hambatan karena pihak studio menolak untuk bekerja sama, ia langsung bisa menebak siapa dalang di balik semua itu : Gun-woo.

Dengan marah ia langsung mendatangi sahabatnya itu, keduanya sempat terlibat adu mulut sebelum Hae-in muncul. Saat berdua, gadis itu berusaha memberi pengertian pada Joon-young mengenai kepedihan yang dirasakan Gun-woo,dan meminta semua masalah itu dilupakan.


Rupanya, orang misterius itu adalah dua sahabat lama Joon-young dan Gun-woo, yang kemudian menjelaskan masalah utama disebabkan oleh perusahaan ayah Gun-woo yang telah dikuasai orang lain. Di tempat lain, diam-diam Sang-jin punya rencana sendiri.

Menyerahkan bukti tersebut pada Hwa-jung, gadis itu memutuskan untuk menelepon Joon-young. Kembali berusaha membuat pemuda itu untuk menyukainya, Hwa-jung harus menelan pil pahit ketika Joon-young menasehatinya untuk tidak berbuat bodoh.

Begitu mendapat benda yang diinginkan, Joon-young mendatangi Gun-woo dan memberikan bukti-bukti penyelewengan yang dilakukan kakak iparnya. Begitu semua dibeberkan, bukannya sadar Sang-jin malah menyuruh bawahannya Mi-ho untuk menghabisi Gun-woo.

Secara kebetulan, Joon-young sedang berada di tempat yang sama dan melihat dengan mata-kepala sendiri sahabatnya dikeroyok beberapa orang. Tampil bahu-membahu, pertarungan mereka dihentikan oleh bunyi sirene polisi. Berkah dari kejadian tersebut, keduanya kembali bersahabat.

Semula berniat membeberkan kebobrokan kakak iparnya itu kepada Soo-ji, ia langsung mengurungkan niatnya mendengar sang kakak ternyata hamil. Di luar rumah sakit, ia langsung melabrak sang kakak ipar, yang berlutut dan mengatakan bahwa ia bersedia meninggalkan perusahaan asal kejahatannya tidak dibeberkan.

Namun semua itu ternyata hanya sandiwara, Sang-jin telah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk menyuruh sang bawahan Mi-ho untuk melakukan rencana terakhir. Siapa sangka, sang bawahan berkhianat dan menyerahkan bukti-bukti kuat kepada Gun-wo, yang langsung mengambil tindakan ekstrim


Setelah semua kembali normal, Hae-in sempat kebingungan melihat perubahan sikap Joon-young yang mendadak begitu sibuk bekerja. Ia hanya bisa pasrah ketika pria yang dicintainya itu memintanya untuk menunggu di kamar yang telah disiapkan.

Namun saat sampai didalam, ternyata begitu banyak kejutan telah menanti. Namun yang membuat Hae-i tidak kuasa menahan tetes air mata adalah ketika mendengar rekaman suara Joon-young yang meminta gadis itu sebagai istrinya. Mengenakan gaun yang telah disiapkan, Hae-in langsung berlari keluar dan memeluk Joon-young yang telah menunggu.

Sang-jin rupanya masih belum kapok, ia kembali mempunyai rencana buruk namun saat sampai dirumah, ia kaget mendengar penuturan istrinya yang menyebut kalau Gun-woo bakal mundur dari perusahaan sehingga otomatis ia akan berkuasa lagi. Ia langsung menelepon Mi-ho yang telah diberi tugas menghabisi Gun-woo, namun telepon itu tidak juga diangkat.

Langsung mendatangi tempat Gun-woo, Mi-ho mengeluarkan pistol dan menembak pria itu. Namun Joon-young langsung menghalangi sehingga tembakan itu mengenai tubuhnya. Luka tersebut berakibat fatal, dokter di rumah sakit menyatakan tidak mampu menyelamatkan nyawa Joon-young.

Melihat Gun-woo berada didepannya, dengan suara lemah pria itu meminta untuk dibawa menyaksikan penampilan Hae-in. Dengan bantuan sahabatnya itu, ia dipapah ke tempat knser yang diselenggarakan di tempat terbuka. Meregang nyawa, Joon-young bergumam supaya Hae-in bisa tetap bahagia meski dirinya sudah tiada sebelum kemudian menghembuskan napas terakhir.

Beberapa tahun kemudian, Hae-in yang tidak bisa melupakan sang suami membawa seorang bocah pria ke pondok tempatnya dulu menghabiskan waktu bersama Joon-young. Bocah itu adalah putranya yang juga gemar memainkan gitar, dan bercita-cita suatu hari bisa menjadi pencipta lagu seperti ayahnya.








source:indosiar.com







10 Februari 2012

Sad Love Song 13-20


Setelah tidak buta lagi, Hae-in mulai menuai kesuksesan di atas panggung. Suaranya mampu membius para penonton yang menyaksikan, gadis itu juga terus didampingi oleh Gun-woo yang kerap mengantarnya dan sang bibi Audrey.


Hidup bahagia dan siangnya bekerja sambilan di restoran pizza, Hae-in meneruskan kebiasaannya merekam suara untuk Joon-young. Diundang makan malam oleh Gun-woo, pemuda itu menyiapkan pesta kejutan bagi Hae-in, yang ternyata hari itu berulang tahun.


Meski sadar kalau gadis itu belum bisa menerima kehadiran pria lain, Gun-woo mengatakan bakal menunggu sampai kapanpun. Ucapan gadis itu yang mengatakan tidak akan melupakan pria yang dicintainya sampai kapanpun membuat pemuda itu shock.


Mendengar masalah pemuda itu, Audrey mulai jengkel dengan sang keponakan namun Gun-woo memohon supaya identitasnya sebagai donatur tidak dibuka. Tidak terasa, beberapa tahun telah berlalu. Di Korea, Joon-young telah menuntaskan wajib militernya dan di Amerika, Gun-woo juga telah menuntaskan kuliahnya.


Saat berdua di pinggir sungai, Gun-woo memberikan cincin berlian kepada gadis yang dicintainya itu. Tidak hanya itu, ia juga mengajak Hae-in kembali ke Korea. Pulang ke negara asalnya sebagai sepasang kekasih, pemuda itu berniat memperkenalkan sang pacar kepada sahabatnya Joon-kyu.
Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Joon-kyu/Joon-young melihat gadis yang dinantinya selama ini berada didepannya namun telah menjadi kekasih sahabat baiknya, ia hanya bisa diam dan bagai orang linglung saat ketiganya makan bersama.


Hae-in sendiri bukannya tidak merasakan ada yang aneh, saat pulang ke hotel ia mulai menanyakan kepada sang bibi soal wajah Joon-young yang sebenarnya. Belakangan ia mengaku kalau sahabat Gun-woo yang ditemuinya mempunyai suara yang sangat mirip dengan Koon-young pria yang dicintainya

Tidak bisa lagi menahan kerinduannya, Joon-young menyusul Hae-in ke hotel tempatnya menginap. Namun saat mengecek ke resepsionis, nama itu ternyata tidak ada. Saking ngototnya ingin mencari, ia bahkan harus diusir oleh petugas keamanan hotel.


Joon-young/Joon-kyu berhasil menyusup masuk ke hotel namun ia berselisih jalan dengan Hae-in yang turun ke bawah untuk makan siang. Begitu melihat kaset rekaman, ia tidak bisa menahan diri lagi namun foto sang kekasih yang nampak mesra bersama Gun-woo membuat nyawanya seolah terbang.
Sadar kalau ia tidak bisa lagi bersama gadis yang dicintainya, Joon-young hanya bisa menangis sambil menggenggam cincin yang semula hendak diberikan pada Hae-in saat bertemu. Menghabiskan hari-harinya di pinggir jalan dengan mabuk, perubahan sikapnya membuat Gun-woo heran.


Namun pria itu tidak menyerah. Saat hari pembebasan ayah Joon-kyu, Gun-woo kembali berusaha membujuk sahabatnya itu untuk bergabung dengan perusahaannya dan menciptakan lagu-lagu berkualitas. Namun saat kembali menolak untuk kesekian kalinya, ia berpapasan dengan Hae-in yang mulai merasakan getaran saat mendengar suara pria itu.


Bertemu didepan pintu, Audrey terkejut melihat pria yang dikiranya telah mati itu. Meski sudah dijelaskan, Joon-young tidak berdaya mendengar permintaan bibi Hae-in itu supaya ia menjauhi gadis itu dan membiarkannya hidup bahagia dengan Gun-woo. Ia sadar bahwa dalang semua itu adalah Hwa-jung, dan meminta gadis itu supaya tidak lagi muncul dihadapannya.


Di hotel, perasaan Hae-in yang tidak enak semakin kacau saat melihat kaset rekamannya telah lenyap semua. Ia hanya bisa menangis saat mendengar sang bibi telah membuang semuanya. Kini, satu-satunya kenangan yang tersisa adalah mengunjungi pondok dimana ia dan Joon-young kerap menyepi saat kecil



Supaya tetap bisa bersama Hae-in dan menjaganya dari kejauhan, Joon-young/Joon-kyu akhirnya menerima tawaran Gun-woo untuk bekerja sebagai pencipta lagu. Untuk menyempurnakan karir gadis itu sebagai artis sukses, Joon-kyu diminta sebagai pelatih.


Sadar kalau Hae-in belum bisa melupakan dirinya, Joon-kyu melatih gadis itu dengan keras, bahkan saat didalam studio ia dimarahi karena tarikan suaranya dianggap belum pas. Diajak keluar, Hae-in diminta mengikuti nada dasar yang dimainkan pemuda itu, dan terus dibentak supaya suara yang dikeluarkan lebih keras.


Gun-woo yang belakangan muncul meminta ijin supaya gadis itu dibiarkan istirahat, namun dengan cepat Joon-kyu membantah dan menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki Hae-in belum cukup sebagai seorang aktris rekaman.


Keadaan semakin kacau setelah Hwa-jung muncul dan ditawari pekerjaan di perusahaan milik Gun-woo. Melihat Hae-in, gadis itu terkejut namun ia berhasil menyamarkan kekagetannya itu dan berpura-pura baik. Saat ditanya soal Joon-young, gadis itu berkelit dan meminta Hae-in untuk memperlakukan tunangannya dengan baik.


Langsung disemprot Joon-young saat keduanya bertemu, Hwa-jung berjanji tidak akan membongkar identitas pemuda itu yang sesungguhnya. Untuk melampiaskan kekesalannya, Joon-kyu semakin keras melatih Hae-in yang malah berbuntut pertengkaran keduanya.


Untuk menghibur, Gun-woo mengajak tunangannya itu ke sebuah bar bersama Joon-kyu. Dalam keadaan terpojok, Hae-in menyebut kalau pria yang dicintainya tidak akan memperlakukannya sekasar itu. Hal itu membuat sikap Joon-kyu semakin beringas, tujuannya satu : Hae-in harus melupakan sosok Joon-young


Gun-woo memainkan lagu yang begitu indah didepan sang tunangan, tanpa sadar kalau yang dibayangkan gadis itu hanyalah Joon-young. Mendengar kalau lagu itu ciptaan Joon-kyu dan apa yang terjadi pada pria yang kerap memerahinya itu, Hae-in tercengang.


Berkat didikan keras, Hae-in sukses dan siap menggelar konser. Keberhasilan itu dirayakan bersama dengan bermain ski, melihat kedekatan Gun-woo dan Hae-in, Jon-kyu sadar kalau itulah yang terbaik untuk gadis itu. Demi menutupi sakit hatinya, ia menutupi wajahnya dengan topi sehingga air matanya tidak terlihat.


Karena ada masalah keluarga, Gun-woo harus pergi dan menitipkan Hae-in kepada Joon-kyu. Rupanya, sang ayah marah besar saat tahu putranya itu menggelar konser dan memerintahkan supaya semua dibatalkan. Di tempat lain, sikap Joon-kyu mulai melunak, dengan sekuat tenaga ia berusaha membangkitkan rasa percaya diri Hae-in yang bakal tampil di konser.


Belakangan Kang-in menyetujui supaya konser tetap digelar asalkan Gun-woo mau menikah dengan Kang Shin-hee. Di tempat konser, Joon-kyu dkk kebingungan saat mendapati gedung tersebut dijaga oleh para pengawal. Tidak kehilangan akal, ia mengusulkan supaya acar digelar di luar gedung alias tempat terbuka.


Diiringi permainan piano Joon-kyu, Hae-in melantunkan lagu pertamanya dengan perasaan deg-degan. Begitu selesai, sambutan yang diberikan penonton yang memadati arena ski tersebut luar biasa, Gun-woo yang baru tiba tercengang dan diam-diam salut akan kecerdikan sahabatnya itu



Melihat Hae-in dalam keadaan mabuk, Audrey menarik gadis itu dan meminta Gun-woo untuk membawanya ke kamar. Saat berdua, ia meminta pemuda itu untuk menjauhi keponakannya. Seolah belum cukup, mantan preman memanfaatkan ketidaktahuan Hae-in untuk menekan Joon-young.


Setelah konser tunggal tersebut, praktis nama Hae-in menjadi terkenal. Tidak ingin terus ditekan dan membuat gadis itu menderita, Joon-kyu memutuskan untuk mundur dan menghilang dari kehidupan Hae-in. Siapa sangka, ia malah diajak pergi ke sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi : rumah dimana dia dan Hae-in dulu kerap bersembunyi.


Meski sukses besar, diam-diam Gun-woo merasa ada yang berubah dalam diri Hae-in. Gadis itu sendiri sedang menceritakan masa lalunya pada Joon-kyu, tanpa sadar kalau pria itulah Joon-young yang dirindukannya. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan pemuda itu yang berbohong kepergiannya adalah untuk berlibur dengan sang kekasih.


Rupanya, diam-diam Hae-in telah menyukai sosok Joon-kyu dan mulai merasa kalau dirinya bakal kehilangan bila sosok pria yang kerap memarahinya itu pergi. Sebelum berpisah, gadis itu berkata ikut bahagia pemuda itu bisa berbahagia bersama gadis pilihannya. Saat sedang minum arak, mendadak Gun-woo muncul.


pemuda itu kaget saat tahu Joon-kyu hendak mengundurkan diri dengan alasan istirahat. Sebelum pergi, Joon-kyu/Joon-young menyempatkan diri mampir di pondok tempatnya dulu bersama Hae-in, dan dengan rekamannya mengatakan bahwa meski harus pergi, ia sendiri bingung harus pindah kemana untuk menghindari gadis itu.


Pertama kali bertemu calon ayah mertuanya Kang-in, Hae-in langsung mendapat sambutan tidak enak. Dari situ, ia baru tahu kalau proses rekaman menghabiskan biaya besar dan telah membuat perusahaan berhutang. Pria setengah baya itu juga menyebutkan kalau Gun-woo telah memiliki calon istri, dan Hae-in tidak pantas bersanding dengan putranya.


Dengan hati kalut, Hae-in melangkahkan kakinya ke pondok tempatnya menghabiskan masa kecil dan terkejut saat tahu Joon-kyu ada disana. Mulai curiga ada sesuatu yang janggal, tulisan di kaca membuat Hae-in langsung berlari keluar dan dengan mencucurkan air mata meneriakkan nama Joon-young yang hendak melangkah pergi.



Menghabiskan malam di pondok, Hae-in tak henti-hentinya meraba wajah dan menyebut nama Joon-young. Meski berbohong dengan mengatakan kalau dirinya bisa hidup tanpa gadis itu, Joon-young tak berkutik ketika Hae-in menyatakan lebih baik mati daripada berpisah lagi.


Memutuskan untuk keluar dari rumah, langkah Gun-woo meneruskan perusahaan rekamannya diganjal sang ayah yang meminta menantunya, yang diam-diam tersenyum, untuk menghentikan sepak terjang putranya itu. Sementara itu, Joon-young dan Hae-in menghabiskan hari dengan romantis tanpa sadar kalau gadis itu sedang menjadi incaran wartawan.


Kembali setelah membelikan obat, Joon-young mendapati Hae-in telah pergi. Rupanya Gun-woo telah menyelamatkannya dari kejaran wartawan, namun saat berbicara empat mata, gadis itu menyebut kalau dirinya tidak ingin menjadi penyanyi lagi.


Dikerubungi wartawan dan ditanya seputar hubungannya dengan Hae-in, Gun-woo naik pitam dan memukul seorang diantaranya serta membanting kamera pers. Di apartemen, Hae-in didepan Audrey akhirnya mengaku kalau dirinya telah mengetahui identitas Joon-young namun saat hendak melangkah pergi, langkahnya tertahan oleh ucapan sang bibi yang menyebut operasi matanya dibiayai Gun-woo.


Saat minum di bar bersama Joon-youn, Gun-woo yang biasanya kuat meneteskan air mata saat menceritakan kalau Hae-in ingin meninggalkannya. Melihat sahabatnya begitu menderita, Joon-young merasa bersalah karena dirinyalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian itu.
Mendengar Joon-young ada di vila untuk mengantarkan Gun-woo yang mabuk, Hae-in menyusul dan bertemu pemuda itu di dermaga. Meski telah diyakinkan, gadis itu (meski merasa berhutang budi) ngotot untuk memberitahu Gun-woo tentang semuanya


Dikerubungi wartawan dan ditanya seputar hubungannya dengan Hae-in, Gun-woo naik pitam dan memukul seorang diantaranya serta membanting kamera pers. Di apartemen, Hae-in didepan Audrey akhirnya mengaku kalau dirinya telah mengetahui identitas Joon-young.


Namun saat hendak melangkah pergi, langkahnya tertahan oleh ucapan sang bibi yang menyebut operasi matanya dibiayai Gun-woo. Saat minum di bar bersama Joon-kyu, Gun-woo yang biasanya kuat meneteskan air mata saat menceritakan kalau Hae-in ingin meninggalkannya. Kontan, pemuda itu merasa sangat bersalah.


Mendengar Joon-young ada di vila untuk mengantarkan Gun-woo yang mabuk, Hae-in menyusul dan bertemu pemuda itu di dermaga. Meski telah diyakinkan, gadis itu (meski merasa berhutang budi) ngotot untuk memberitahu Gun-woo tentang semuanya.


Melihat kondisi pria itu yang mengenaskan, Hae-in sempat ragu-ragu terutama bila mengingat kebaikan hati Gun-woo terutama ketika tunangannya itu meminta penjelasan kenapa gadis itu ingin meninggalkannya. Akhirnya, Hae-in harus mengambil keputusan yang membuat hatinya pedih : tetap berada disamping Gun-woo.


Saat digelar konferensi pers, Joon-young hanya bisa menyaksikan dari kejauhan melihat gadis yang dicintainya seumur hidup bersanding disamping sahabat baiknya. Hati Gun-woo sendiri begitu berbunga-bunga, ia berjanji bakal membahagiakan kekasihnya itu tanpa bantuan sang ayah.


Saat bertemu Hae-in, Joon-young memintanya untuk melupakan pria itu supaya bisa hidup bahagia. Ucapan tersebut kontan membuat Hae-in sedih dan langsung berlari meninggalkan Joon-young, ia tidak sadar kalau dibelakangnya pemuda itu meneteskan air mata.


Langsung didatangi oleh Hwa-jung, Hae-in melakukan tindakan yang sama sekali tidak diduga : ia menampar gadis itu dan menyebut tidak akan pernah memaafkannya karena telah memisahkan Hae-in dengan Joon-young. Belakangan, ia memutuskan untuk mengikuti kompetisi bakat yang hadiahnya menjanjikan kontrak rekaman.


Kejadian itu semakin membuat Hwa-jung mendendam, pasalnya gadis itu juga mengikuti kompetisi yang sama namun dengan kehadiran Hae-in, peluangnya untuk menang tipis. Saat bertemu muka, ia mengatai Hae-in sebagai orang yang tidak tahu diri. Bertekad membuktikan diri, Hwa-jung unjuk kebolehan menari didepan para juri


Berkat bujukan Shin-hee, Joon-kyu akhirnya mau pergi ke pesta sebagai pasangan gadis itu, serta bertemu Gun-woo dan Hae-in disana. Dalam keadaan mabuk, ia dibawa Shin-hee ke kamar dan secara tidak sengaja menyebut nama Hae-in. Bisa ditebak, rahasia keduanya akhirnya ketahuan.


Saat keluar dari hotel bersama Shin-hee, keduanya bertemu dengan Hae-in dan Audrey. Saat diminta penjelasan, Joon-young malah menanggapi dengan dingin. Berlari kekamar mandi untuk menghapus air mata, disana ia bertemu Shin-hee yang menasehati supaya gadis itu bisa hidup bahagia.


Masalah semakin bertambah ketika Hwa-jung meminta pacarnya Lee Mi-young supaya bisa memenangkan kompetisi bagaimanapun caranya. Akibatnya, pria itu dengan gerombolannya menculik gadis itu. Beruntung, dari belakang Joon-young melihat sehingga dengan cepat ia mengejar.


Dibawa ke dalam sebuah gudang, Joon-young mendadak muncul sehingga terjadi pertarungan sengit. Meski berhasil menyelamatkan Hae-in, namun pemuda itu terluka parah setelah terkene tusukan Mi-young. Dalam keadaan setengah sadar, Joon-young nekat mengemudikan mobil dan ngotot mengantar gadis itu ke tempat perlombaan.


Hae-in akhirnya berhasil melarikan mobil ke rumah sakit, dan di luar UGD menangis meraung-raung sehingga menjadi perhatian orang banyak. Ketidakhadirannya ditempat lomba membuat namanya gugur, sehingga Hwa-jung tampil sebagai juara.


Gun-woo tidak kalah kalut saat mengetahui Hae-in menghilang, padahal gadis itu sengaja menyepi untuk merawat Joon-young. Kepada sang bibi Audrey, ia menitipkan pesan kalau baik-baik saja dan meminta supaya Gun-woo tidak mencarinya.




Source:www.indosiar.com







08 Februari 2012

Sad Love Song 8-12

Saat hendak berjalan ke sekolah, Joon-young mendapat kabar bahwa Hyang-ja masuk rumah sakit. Disana, ia baru tahu kalau ibunya menderita penyakit jantung. Saat sadar, wanita itu memberikan sebuah hadiah tak terduga sambil meminta maaf atas sikap kerasnya selama ini.


Nyawa wanita itu tidak bisa diselamatkan, ia meninggal disebelah Joon-young. Saat membereskan barang-barang peninggalan Hyang-ja, ia tidak bisa menahan kesedihan dan menyesal telah bersikap buruk. Di Amerika, kondisi Audrey dan Hae-in semakin buruk karena Wesley tidak menghentikan kebiasaan minumnya. Puncaknya, ia menghancurkan kaset kiriman Joon-young dan memukul sang istri.


Cobaan bagi Joon-young belum juga berhenti, ayahnya Jun-il harus berurusan dengan pihak kepolisian karena masalah penipuan. Masing-masing akhirnya menempuh jalan hidup sendiri. Gun-woo pindah dan bersekolah di Amerika, dan saat tampil di sebuah taman ia bertemu dengan Hae-in. Seketika itu juga, ia jatuh cinta.


Saat itu, hidup Hae-in dan Audrey sendiri sedang kesulitan. Setelah memutuskan untuk keluar dari rumah Wesley, sang bibi harus mencari pekerjaan sendiri untuk menghidupi mereka. Akhirnya, wanita itu kembali ke profesi lamanya sebagai penyanyi bar.


Memutuskan untuk menolong ayahnya yang terjerat kesulitan, Joon-young memutuskan untuk memberikan tabungan peninggalan ibunya untuk menebus semua. Namun, sang ibu tiri yang dititipkan uang tersebut malah kabur


Saat lari pagi, secara tidak sengaja Gun-woo bertemu dengan Hae-in di taman. Ia terkejut melihat reaksi gadis itu yang panik saat menyelamatkan surat-surat yang terbang, kejadian itu akhirnya membuat mereka berkenalan. Melihat baju gadis itu basah, ia membelikan yang baru.


Kejadian tersebut kontan membuat Hae-in tidak enak dan berniat membayar, namun Gun-woo mengatakan bahwa 'pengorbanan'nya itu cukup ditebus dengan gadis itu mengingat suaranya. Di Korea, kesulitan hidup yang bertubi-tubi membuat Joon-kyu putus asa. Namun berkat dukungan semangat rekannya, ia bisa bangkit.


Namun Joon-young kembali galau saat tahu surat-suratnya tidak pernah dibalas Hae-in. Pemuda itu tidak sadar kalau gadis itu sudah pindah dan surat-suratnya dibakar oleh Wesley. Di Amerika, dengan caranya yang unik Gun-woo berhasil membujuk profesornya untuk bisa menerimanya kembali di kelas.


Tidak hanya itu, ia juga berkencan dengan gadis tercantik di kampusnya. Namun sikapnya langsung berubah saat gadis itu mulai menaruh barang-barang di apartemennya, keduanya bertengkar dan putus. Di Korea, Hwa-jung berusaha membujuk Joon-young agar boleh tinggal bersama, namun begitu melihat surat-surat Hae-in yang baru sampai, gadis itu langsung mengambil tindakan drastis.


Bertemu kembali dengan Gun-woo, Hae-in merasa senang ketika pemuda itu menawari bibinya Audrey untuk mengikuti audisi di sebuah bar. Namun, kecelakaan kecil membuat semuanya nyaris saja berantakan. Sebagai jalan akhir, pemuda itu mengusulkan supaya Hae-in yang maju menggantikannya.


Permintaan tersebut kontan membuat sang bibi kuatir, apalagi Hae-in tidak punya pengalaman menyanyi sama sekali. Diatas panggung ketika melihat gadis itu hanya terdiam, Gun-woo langsung turun tangan dan memainkan piano. Hasilnya mengejutkan, Hae-in mampu menyanyi dengan suara yang sangat indah


Mendengar begitu banyak perubahan yang terjadi di Korea, Hae-in memutuskan untuk mengumpulkan uang dan kembali ke sana. Namun uang tabungannya ternyata dihabiskan Audrey yang berjudi di kasino, kontan gadis itu menangis tersedu-sedu.


Kembali bertengkar dengan berandalan di kota asalnya, kalung Hae-in yang terjatuh diambil Hwa-jung sehingga pria itu mencari seharian tanpa hasil. Namun saat pulang, ia mendapat kabar dari Charlie bahwa pria itu telah bertemu dengan Hae-in di Amerika.


Bertaruh dengan sahabat Amerikanya Danny mengenai Hae-in, Gun-woo terkejut melihat kemunculan gadis itu di pesta ulang tahun kejutannya. Ia mengira gadis yang disukainya itu hanya seharga 1000 dolar, tanpa sadar bahwa tujuan Hae-in menerima adalah supaya bisa membeli tiket pesawat kembali ke Korea dan bertemu Joon-young.


Kembali ditolak mentah-mentah, Gun-woo memutuskan lari ke pelukan wanita lain. Paginya, pemuda itu mendengar rekaman Hae-in yang ditujukan kepada Joon-young yang jatuh ketangannya, ia tidak sadar kalau pria yang dimaksud adalah Joon-kyu sahabatnya.


Setelah bertemu Hae-in, ia mendapat telepon dari Korea, rupanya Gun-woo diminta untuk menjadi penjamin Joon-kyu sahabatnya yang ingin pergi ke Amerika untuk menyusul gadis yang dicintainya. Saat pulang, Hwa-jung yang mengira Joon-young telah memikirkannya marah besar.


Dengan penuh rasa cemburu, gadis itu menulis surat ke Hae-in dan mengabarkan kalau Joon-young telah meninggal dengan menyertakan kalung pemberian gadis itu sebagai bukti. Namun, Audrey yang tidak tega membohongi keponakannya


Audrey yang sedang tidur dikejutkan oleh suara Hae-in, rupanya gadis itu sudah tahu kalau kalung yang dikirim lewat surat adalah miliknya yang diberikan pada Joon-young. Karena ia tahu pemuda itu tidak akan pernah melepasnya, itu berarti satu : orang yang dicintainya telah tiada.


Dalam keadaan putus asa, Hae-in berjalan ditengah padatnya jalan raya dan, didepan mata Gun-woo yang kebetulan melintas, tertabrak sebuah mobil. Karena sibuk menolong gadis itu, Gun-woo mengutus salah seorang anak buahnya untuk menjemput Joon-young/Joon-kyu.


Paginya, Joon-young memulai pencariannya dan tiba di bar tempat Charlie bekerja. Betapa terkejutnya ia mendengar kabar bahwa Hae-in dan bibinya telah kembali ke Korea. Tidak percaya begitu saja, ia menyusul ke apartemen kekasihnya itu dan mendapat kabar dari tetangga disana bahwa tempat itu sudah kosong.
Kejadian itu benar-benar memukul mental Joon-young, percuma saja ia menempuh jarak ribuan mil untuk bertemu gadis yang dicintainya. Di rumah sakit, Gun-woo mendengar cerita Audrey bahwa salah satu alasannya pindah ke Amerika adalah karena mantan kekasihnya Wesley menjanjikan siap membiayai operasi mata Hae-in supaya bisa melihat kembali.


Berusaha mencari informasi kemana Hae-in pergi, Joon-young mendatangi rumah Wesley. Namun saat berada didalam bis, tanpa sengaja ia membawa paket milik Charlie yang kebetulan tertinggal tanpa sadar bahwa apa yang ada didalamnya adalah narkoba. Sementara itu, Hae-in yang sadar menceritakan pada sang bibi Audrey bahwa dalam mimpinya, ia melihat Joon-young meninggal.


Saat sampai diapartemennya, Gun-woo mendapat sejumlah pesan voicemail dari Joon-kyu, yang terakhir mengabarkan keberadaan pemuda itu di sebuah bar di daerah Brooklyn. Saat menyusul kesana, ia melihat sahabat akrabnya itu ditarik masuk ke sebuah mobil oleh sejumlah orang bertubuh besar.


Dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut menuju ke sebuah gudang yang telah ditinggalkan. Didalam, Joon-kyu melihat Charlie dalam keadaan babak belur. Bisa ditebak, terjadi pertarungan tidak seimbang namun di saat-saat terakhir, Gun-woo muncul dan membantu sahabatnya itu.


Berusaha meloloskan diri, ketiganya tunduk oleh todongan senjata musuh. Beruntung saat keadaan genting, pihak kepolisian muncul. Berita ditahannya Gun-woo terdengar sampai ke Korea, dan membuat kakak iparnya, yang sempat dipergoki berselingkuh, marah besar

Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi : Joon-kyu dan Charlie harus kembali ke Korea alias dideportasi. Menyusul Gun-woo untuk mengucapkan terima kasih, Joon-young/Joon-kyu tidak sadar kalau gadis yang ada didalam kamar adalah Hae-in.


Sayang, mata gadis itu buta sehingga saat berpaling tepat menghadap Joon-young, ia tidak bisa melihat sosok pemuda yang dicintainya itu. Begitu taksi yang membawa pemuda itu pergi, Hae-in berusaha bunuh diri namun Gun-woo muncul dan mengingatkan cinta sejati gadis itu pasti menginginkannya hidup.


Sesampai di Korea, Joon-young dan Charlie (yang ikut dideportasi) meneruskan pencarian Hae-in namun tidak berhasil. Saat putus asa, pemuda itu mendengarkan rekaman suara gadis yang dicintainya itu menyanyikan lagu L.O.V.E. sehingga semangatnya bangkit lagi.


Di Amerika, Gun-woo yang kuatir dengan kondisi Hae-in menemui Audrey dan menawarkan untuk mendanai biaya operasi dengan syarat namanya tidak disebut. Begitu berita itu disampaikan kepada gadis yang dimaksud, jawaban Hae-in sangat mengejutkan : ia menolak karena di dunia ini tidak ada yang ingin dilihatnya lagi.


Jawaban tersebut membuat Audrey sangat marah, ia menumpahkan semua unek-uneknya dan pergi meninggalkan sang keponakan. Putus asa karena tidak mempunyai sandaran hidup, Hae-in akhirnya setuju, keduanya berpelukan sambil menangis terisak-isak.


Saat mengunjungi sang ayah Jun-il yang berada di penjara, Joon-young menceritakan kalau ia akan menempuh wajib militer dan mungkin tidak akan muncul selama beberapa waktu. Di atap rumahnya, pemuda itu mengungkapkan kepergiannya itu dalam sebuah rekaman dan mengungkapkan kerinduannya.
Saat membuka mata dan melihat dunia untuk pertama kalinya, yang teringat oleh Hae-in bukanlah ang bibi Audrey atau Gun-woo, melainkan ucapan Joon-young yang mengatakan kalau saat gadis itu bisa melihat kelak, ia pasti bisa mengenali sosok pria yang dicintainya itu. Tanpa terasa, air mata Hae-in menetes.



Source:www.indosiar.com

Sad Love Song 7

Melihat sang bibi begitu bahagia, Hae-in berusaha menikmati kehidupan barunya. Namun, kebahagiaan Audrey sirna saat melihat kondisi rumah kekasihnya. Meski tidak bisa melihat, Hae-in sadar kalau wanita itu menyimpan sesuatu didalam hatinya.


Berusaha menghibur sang keponakan dengan menceritakan hal-hal yang indah, Hae-in dengan berseri-seri merekam suaranya dan mengirim kaset itu ke Joon-young, yang mendengarnya dengan berbinar di Korea. Otomatis, sejak itu keduanya menjalin hubungan lewat cara unik itu.


Diam-diam, bakat Joon-young menulis lagu mulai terasah. Niatnya menekuni dunia musik semakin bulat setelah sang ayah menjanjikan akan menyekolahkannya hingga sukses, ia dengan giat terus berlatih memainkan gitar.
Masih penasaran, Hwa-jung berusaha mencari tahu keberadaan Joon-young dengan merayu sang ayah. Sempat senang karena Hae-in telah pindah ke Amerika, belakangan ia sadar kalau sosk gadis itu masih tetap tidak tergantikan.


Di Amerika, kehidupan bahagia Audrey dan Hae-in berubah menjadi mimpi buruk. Wesley yang semula sangat baik mulai menunjukkan perangai aslinya yang suka mabuk-mabukan dan memukul sang istri kalau sedang emosi



Source:www.indosiar.com

Sad Love Song 6

Sadar suara itu berasal dari dalam gereja, Joon-young berlari kedalam namun sesampai disana, gadis yang dicari telah pergi. Namun dasar nasib, keduanya berpapasan saat hendak menyeberang jalan. Begitu lampu berubah hijau, pemuda itu berlari dan langsung memeluk kekasihnya.
Karena tidak ingin berpisah lagi, Joon-young menelepon Gun-woo, yang sedang membantu kakaknya mempersiapkan pernikahan, dan meminta ijin untuk menggunakan vila pemuda itu. Menelepon sang bibi, reaksi Hae-in membuat pemuda itu curiga. Memutuskan untuk kembali menghubungi Audrey, Joon-young baru tahu kalau ternyata sang kekasih berencana berimigrasi ke Amerika.
Masalah, Audrey tidak akan pindah kalau tidak disertai keponakannya. Mendengar berita tersebut, hati Joon-young mulai bingung. Rupanya, Hae-in juga telah punya firasat akan terjadi sesuatu karena dirinya terus dihantui mimpi buruk. Sebelum berpisah, Joon-young bertekad untuk menghabiskan satu hari penuh bahagia bersama gadis itu.
Memenuhi janjinya kepada Audrey, Joon-young membawa Hae-in ke bandara. Saat tahu dimana ia berada, gadis itu mengamuk sambil meraung-raung. Memohon untuk tidak dibiarkan pergi, Joon-young menjanjikan keduanya untuk bertemu lagi.
Berusaha menegarkan hati dan bersikap seolah ia senang karena Hae-in siap memulai hidup baru penuh kebahagiaan, air mata Joon-young akhirnya turun setelah gadis itu naik ke pesawat. Didalam, Hae-in mendengarkan hadiah yang ternyata berisi rekaman suara Joon-young. Suara pemuda itu membuatnya yakin kalau cinta mereka akan bersatu kelak.



Source:www.indosiar.com

Sad Love Song 5

Sadar kalau hidup anaknya sangat tragis, Kang-in berjanji untuk mengurus Joon-young dengan baik. Di tempat lain, Audrey alias dengan pria bule bernama Wesley semakin erat, ia mengajak Hae-in untuk ikut pergi.
Saat mengisi bensin, Gun-woo terkesima melihat Hae-in yang berada didalam mobil. Kaget melihat wanita yang dicarinya selama ini berada didepannya, Joon-young yang juga berad disana merebut sepeda motor Gun-woo dan berusaha mengejar. Namun, lampu merah ditambah kemarahan Gun-woo membuatnya tidak berkutik, keduanya terlibat adu-pukul.
Sama-sama babak-belur, keduanya malah menjadi sahabat dekat. Saat keluar dari karaoke, Hae-in yang bersama Audrey dan Wesley bertemu seorang pastur yang merupakan sahabat lama mereka. Sejak itu, ia menyibukkan diri dengan kegiatan gereja sambil terus mengenang Joon-young.
Namun masalah baru datang, Audrey dilamar Wesley dan diajak pindah ke Amerika. Meski menolak, Hae-in tidak bisa menolak karena sang bibi tidak ingin berpisah dengannya. Mempersiapkan diri masuk sekolah baru, nama Joon-young diganti menjadi Choi Joon-kyu oleh sang ayah supaya lebih membawa keberuntungan.
Di sekolah baru, Joon-kyu kembali bertemu dengan Gun-woo dan bergabung dengan band sekolah. Kepandaiannya bermain gitar begitu memikat dan bersama Gun-woo, keduanya menjadi sahabat dekat. Namun, teman baru tetap belum bisa membuatnya melupakan sosok Hae-in.
Tahu apa yang dirasakan sahabatnya, Gun-woo menyatakan siap membantu untuk mencari gadis itu. Di gereja, Hae-in tidak berhenti berdoa dan berharap supaya bisa bertemu Joon-young sebelum  berangkat ke Amerika, namun sepertinya harapan tersebut hanya tinggal mimpi.



Source:www.indosiar.com





Sad Love Song 4

Perkenalan Joon-young dengan Gum-woo terjadi ketika pemuda itu datang ke pompa bensin tempatnya bekerja dengan tiga wanita cantik. Namun, ternyata pemuda itu tidak membawa uang, yang malah membuat kedoknya sebagai siswa SMU terbongkar.
Namun, Gun-woo sempat dipukul Joon-young karena berusaha menunjukkan permohonan maafnya dengan menyodorkan uang. Tidak terima, pemuda itu memacu motornya dan menyusul sang rival ke stasiun. Saat dipukul di luar kereta, Joon-young tidak sadar kalau dirinya hanya berselisih beberapa meter dari Hae-in yang juga memutuskan pulang kembali ke tempat asalnya.
Berada di kereta yang sama, keduanya berpisah dengan tujuan masing-masing : Joon-young telah ditunggu Hwa-jung, sementara Hae-in menuju pondok dimana ia bersama Joon-young biasa menyepi. Saat pemuda itu hendak menyusul ke pondok, Hwa-jung mengalami kecelakaan sehingga ia harus menunggu sampai malam di rumah sakit.
Saat sampai disana, Hae-in telah pergi mencari Joon-young dirumahnya. Namun, kabar kalau pemuda itu telah pindah membuatnya tertunduk lesu. Di pondok, Joon-young sadar Hae-in telah datang kesana dan memutuskan kembali ke rumah, namun ternyata gadis itu telah pergi.
Bertemu kembali dengan Hyang-ja, Joon-young kembali bertengkar dengan sang ibu dan memutuskan untuk tidak kembali kesana selamanya. Ia tidak sadar bahwa kejadian itu membuat sakit jantung Hyang-ja kumat.


Source:www.indosiar.com

Sad Love Song 3

Sementara itu, Lee Gun-woo (pemuda yang menolong Hae-in saat terjatuh) juga telah tumbuh dewasa. Ia adalah putra seorang konglomerat ternama, namun sikapnya yang dianggap masih suka main-main membuat ayahnya Kang-in kesal.
Saat menonton aksi Hwa-jung yang tampil sebagai pemimpin marching band, Joon-young terlibat perseteruan dengan seorang pemuda berandalan (yang diam-diam menyukai Hwa-jung). Saat ditinggal sendirian, pria itu bersama teman-temannya menculik Hae-in bahkan nyaris memperkosanya.
Bisa ditebak, perkelahian tidak bisa dihindari dengan masing-masing pihak jatuh korban. Kejadian tersebut membuat Hyang-ja marah, menyalahkan Hae-in dan memintanya pergi. Tidak terima mendapatkan penghinaan dari wanita itu, Mi-sook bibi Hae-in membawa gadis itu pergi dari daerah tersebut tanpa mampu dicegah Joon-young (yang belakangan muncul).
Sikap dingin Hyang-ja membuat Joon-young marah, dan memutuskan untuk kabur ke tempat persembunyiannya semasa bersama Hae-in. Sementara itu menempati rumah baru, Mi-sook bertekad dnegan sekuat tenaga mencari uang untuk menyembuhkan mata keponakannya.
Frustrasi karena kehilangan Hae-in, Joon-young yang berhasil menemukan sarung tangan yang dirajut gadis itu untuknya mendatangi kelompok berandal yang berusaha mempermalukan Hae-in dan menghajar mereka hingga babak-belur. Akibatnya, ia harus berurusan dengan polisi.
Tidak ingin anaknya tumbuh menjadi preman, Hyang-ja memutuskan untuk mengirim Joon-young supaya tinggal bersama sang ayah Choi Jun-il. Saat sampai, malamnya pemuda itu langsung pergi ke kota sambil berharap bisa bertemu dengan Hae-in yang kabarnya tinggal disana.


Source:http://www.indosiar.com

Sad Love Song 2

Namun, keduanya kembali berbaikan saat di kelas para murid sedang menghabiskan makan siangnya. Terkejut melihat beberapa temannya mengerjai Hae-in dengan memasukkan cacing ke makanannya, pemuda cilik itu naik pitam.
Menghajar temannya hingga babak-belur, Joon-young mengancam tidak akan mengampuni siapapun yang berbuat macam-macam terhadap Hae-in. Bermain ditengah tumpukan daun-daun yang berguguran, Joon-young panik saat teman barunya itu terjatuh dan langsung berlari pulang untuk mengambil obat. Saat sendirian, gadis kecil itu ditolong seorang pemuda lain.
Merasa menemukan sahabat, Joon-young mengajak Hae-in ke tempat dimana ia biasa bersembunyi untuk melupakan semua kesusahan yang dialami. Berada disana sampai malam, kondisi gadis itu memburuk namun ia menolak untuk pulang karena sang bibi terjerat masalah dan diusir oleh ibu Joon-young.
Melihat sang ibu berada didepan pintu dalam keadaan marah, Joon-young yang membopong Hae-in berjanji tidak akan berbuat nakal lagi asalkan gadis kecil itu bisa tinggal bersamanya. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, Hae-in memberikan kalung kesayangannya pada sang sahabat.
Tak terasa beberapa tahun berlalu, keduanya telah tumbuh dewasa dan masih bersahabat. Kepada gadis yang diam-diam dicintainya, pemuda itu berjanji akan berada didepannya saat Hae-in bisa melihat nanti. Sayangnya, persahabatan mereka tidak menular pada orang tua masing-masing, yang saling bermusuhan.
Di sekolah, diam-diam Joon-young sering memperhatikan Hae-in terutama saat gadis itu mencoba-coba piano. Rupanya meski buta, Hae-in memiliki perasaan yang cukup tajam dan mampu mengenali benda-benda disekitarnya. Diam-diam, kebersamaan mereka membuat Hwa-jung, yang tidak pernah berhenti mencintai Joon-young, kesal setengah mati.


Source:www.indosiar.com

Sad Love Song





  • Title: 슬픈연가 / Seul-peun Yeon-ga
  • Also known as: Sad Love Story (KBFD-TV) / Sad Sonata
  • Genre: Drama, Romance
  • Episodes: 20
  • Broadcast network: MBC
  • Broadcast period: 2005-Jan-05 to 2005-Mar-17
  • Air time: Wednesday & Thursday 21:55 
Cast:

Choi/Suh family
Park family
Lee family
Cha family

Sinopsis Sad Love Song 1

Perkenalan pertama Su Joon-young. putra seorang pemilik klub malam, dengan Park Hae-in terjadi ketika bocah pria itu adu pukul dengan anak-anak sebayanya. Ia melempar sepatunya ke arah gadis cilik itu, tanpa sadar kalau Hae-in tidak dapat melihat.
Saat pulang, ia ditegur oleh Hyang-ja sang ibu karena lagi-lagi berantem, namun anak laki-laki itu mengaku penyebabnya adalah karena dikatai sebagai anak pelacur. Meski emosional, namun Joon-young mempunyai bakat terpendam di bidang musik. Secara kebetulan, Hae-in bersama sang bibi Mi-sook bekerja di tempat yang sama dengan ibu Joon-young.
Paginya, Joon-young kaget ketika mendapat Hae-in yang buta adalah murid baru dikelasnya. Kebetulan saat pulang sekolah, ia diminta gurunya untuk mengantar Hae-in pulang. Namun, keputusannya menurunkan gadis cilik itu ditengah jalan nyaris saja berbuah fatal, Hae-in nyaris saja tertabrak kereta.
Meski merasa bersalah, namun Jon-young masih belum berani menawarkan tumpangan pulang. Semuanya berubah saat suatu hari hujan turun, pria cilik itu memacu sepedanya mencari Hae-in dan menemukan gadis itu dalam perjalanan pulang.
Sejak kejadian itu hubungan mereka mulai dekat, Joon-young tidak segan lagi mengantar Hae-in pulang-pergi sekolah. Kedekatan tersebut membuat Cha Hwa-jung, teman sekelas yang diam-diam menyukainya, iri. Puncaknya terjadi saat secara tidak sengaja keduanya minum dari pancuran yang sama saat jam pelajaran olah raga.
Dicemooh oleh teman-teman sekelasnya, diiringi pandangan cemburu Hwa-jung, Joon-young berkelit dengan mengatakan bahwa kedekatannya adalah karena rasa belas kasihan. Ia tidak sadar kalau ucapan itu membuat Hae-in sedih.





Source: wiki.d-addicts.com,www.indosiar.com