Pages

17 Mei 2012

Sinopsis Rules Of Love 15- End


Sejak Geun-young tidak bekerja lagi, Seo-jun mulai merasa ada sesuatu yang kurang di hidupnya. Ketika seorang gadis, yang begitu antusias dan penuh semangat, datang melamar pekerjaan yang ditinggalkan Geun-young, Seo-jun semakin teringat akan gadis itu.

Menghabiskan waktunya untuk belajar di perpustakaan, Geun-young terus ditempel oleh Jae-min. Ketika pulang ke rumah, ia menyempatkan diri mampir ke taman dan kaget melihat Seo-jun ada disana. Melangkah mendekat dengan ragu-ragu, pria itu memberanikan diri untuk memeluk Geun-young, yang mengucurkan air mata.

Keesokan harinya setelah mendapati Geun-young melepas cincin pemberiannya, Jae-min pergi ke studio dan lewat 'obrolan' dengan Seo-jun, akhirnya menantang sang atasan bermain basket. Saat berbincang-bincang, pemuda itu akhirnya tahu kalau Seo-jun akan menunggu Geun-young sampai kapanpun. Dengan kecewa, ia memarahi gadis itu namun semua janjinya sudah terlambat.

Sadar kalau apapun yang dilakukannya percuma, ia menemui Seo-jun dan mengatakan siap bersaing secara adil memperebutkan hati Geun-young. Ketika bertemu, gadis itu kaget mendengar penuturan Seo-jun soal ucapan Jae-min, mengingat semula ia berencana meminta sang mantan atasan untuk tidak lagi menunggu.

Jae-min ternyata tidak main-main, dengan bantuan sang kakek ia mengirim banyak hadiah pada keluarga Geun-young. Di tempat lain, gadis itu dan Seo-jun  mulai saling berusaha mengenal diri masing-masing. Ketika keduanya pergi ke pasar swalayan untuk berbelanja, mereka terlihat oleh orang tua Geun-young, beruntung Min-soo bisa bertindak cepat.

Sambil makan di apartemen Seo-jun, Geun-young melihat-lihat album pria itu dan mendapati selembar foto gadis cantik. Ketika ditanya, dengan jujur Seo-jun mengaku kalau wanita itu adalah orang yang pernah dicintainya. Dari mata Seo-jun, Geun-young bisa melihat bahwa perpisahan Seo-jun dan mantan kekasihnya pastilah sangat menyakitkan.


Mengantar Geun-young hingga ke depan pagar rumahnya, Seo-jun melakukan tindakan mengejutkan dengan tiba-tiba yaitu mencium pipi gadis itu. Keruan saja Geun-young langsung gelagapan, dan saat masuk ke rumah, jantungnya seolah berdetak makin kencang.

Saat makan pagi, Geun-young terkejut mendengar makanan yang ada di atas meja adalah kiriman kakek Jae-min. Yang mengejutkan, sang ibu malah memintanya untuk menerima Jae-min kembali. Saat keluar dan kembali bertemu pemuda itu yang terus menunggu, Geun-young diminta untuk mau memberinya satu kesempatan lagi. Bila semuanya gagal, Jae-min menyatakan siap melepasnya.

Ketika berkencan, Jae-min berusaha menggugah semua kenangan lama yang pernah dirasakannya bersama Geung-young. Tidak hanya memegang tangan gadis itu dan menyodorkan bahunya sebagai sandaran. pemuda itu juga meminta Geun-young untuk menulis surat cinta untuknya, sama seperti yang diminta gadis itu kepadanya dulu.


Dengan enggan karena tahu pertemuan hanya akan membuat mereka bertengkar lagi, Geun-young melangkahkan kakinya untuk menemui Hee-won. Dengan wajah merah, gadis itu meminta Geun-young untuk menentukan pilihan karena yang dilakukannya menyakiti dua pria yang mencintainya.

Memikirkan apa yang diucapkan oleh Hee-won, Geun-young telah ditunggu Jae-min saat kembali malamnya. Merasa itu adalah kesempatan terbaik untuk menyampaikan keputusan, gadis itu menyebut bahwa apapun yang terjadi, waktu sudah tidak bisa diputar balik dan ia telah memilih Seo-jun sebagai pasangan.

Setelah berpisah, keduanya membuka surat masing-masing dan sama-sama menitikkan air mata. Untuk melupakan kesedihannya, Jae-min sengaja menunggu Seo-jun selesai bekerja dan mengajaknya untuk minum bersama. Dibopong dalam keadaan mabuk, pemuda itu terus memanggil-manggil nama Geun-young.

Begitu sadar, Jae-min memutuskan untuk pergi sementara demi menenangkan diri. Sudah tentu sang kakek bingung, dan menelepon kediaman Geun-young. Bisa ditebak, mulai dari ibu hingga ayahnya menyalahkan gadis itu atas apa yang terjadi, namun Geun-young berusaha untuk tidak perduli dan memutuskan berkonsentrasi pada studinya.

Kemana Jae-min pergi? Rupanya, pemuda itu berkeliling untuk mencari obyek foto, dan mengirimkan hasil jepretannya ke Geun-young dari waktu ke waktu. Ketika sedang melihat-lihat foto tersebut, mendadak ia mendapat telepon dari Seo-jun dan langsung memutuskan untuk datang ke studio untuk mengobrol dan menunjukkan hasil karya Jae-min.

Setelah Jae-min pergi, kehidupan di studio kembali berlangsung normal sampai Seo-jun kembali bertemu dengan sosok dari masa lalunya, yang ironisnya justru adalah seorang desainer terkemuka yang diwawancarai oleh Hee-won.

Terinspirasi oleh jepretan Jae-min, Geun-young mendatangi studio Seo-jun untuk meminjam kamera sederhana yang pernah dipakainya. Melihat antusiasme gadis itu, Seo-jun menawarkan diri untuk menemani sekaligus mengajari cara mengambil sudut-sudut yang pas.

Menapaktilasi tempat-tempat yang pernah dilewatinya bersama Jae-min, Geun-young terus mengambil gambar sambil sesekali tertegun. Dengan sabar, Seo-jun terus menemaninya dan saat keduanya beristirahat, pria itu menceritakan apa yang dirasakannya saat merasakan putus cinta yang tanpa penjelasan apapun.


Min-soo yang tahu ada sesuatu yang tidak beres berusaha menutupi semua itu, dan kesal setengah mati saat Seo-jun mengaku telah mengetahui semuanya dari Hee-won. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk menghubungi hotel tempat mantan kekasihnya menginap, namun harus kecewa karena wanita yang dicarinya telah keluar.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Setelah cukup lama mengembara, Jae-min akhirnya kembali ke studio. Dengan senyum tipis, Seo-jun meminta pemuda itu untuk menemui Geun-young dan memulai semuanya dari awal karena ia tahu betul gadis itu masih memikirkan Jae-min.

Begitu bertemu Geun-young, Seo-jun langsung memberitahu tentang kedatangan Jae-min. Siapa sangka, pemuda itu sudah menunggu didepan rumahnya saat ia kembali, keduanya akhirnya makan malam bersama dan berbagi cerita seputar apa saja yang sudah terjadi. Ketika duduk di taman, Jae-min menyerahkan surat kontraknya yang sudah dirobek sebagai pertanda perjanjian mereka berakhir.

Meski ikut sedih, Geun-young hanya bisa meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Seperti biasa, Jae-min mengantar gadis itu hingga ke depan gerbang rumahnya dan sebelum berpisah, meminta pelukan untuk terakhir kali. Sudah tentu, Geun-young tidak dapat menolak.

Sama-sama saling menahan diri untuk tidak menelepon, Seo-jun dan Geun-young malah bertemu di toko buku tempat mereka pertama kali berkenalan (dan rebutan buku). Dengan tulus, Geun-young mengucapkan terima kasih pada Seo-jun yang telah menemaninya di saat-saat sulit sambil mengatakan bahwa bila pria itu tidak ada, keadaan dirinya pasti lebih buruk.

Di kantor, kedekatan Jae-min dan Seo-jun membuat Min-soo bingung mengingat sebelumnya mereka seperti bermusuhan. Kencan resmi Seo-jun dan Jae-min akhirnya dimulai sama seperti pasangan lain yaitu dengan menonton film, sayang keadaan tidak seindah yang dibayangkan karena keduanya duduk terpisah.

Tidak ingin terjadi hal konyol, malamnya pria itu kembali ke kantor untuk mencari tahu tempat terbaik mengajak wanita kencan. Sempat ditertawakan, ia akhirnya malah diajari Jae-min tentang tips-tips berkencan di tempat yang romantis.

Hee-won rupanya masih belum puas, ia memberitahu Jae-min bahwa sebenarnya Seo-jun masih belum bisa melupakan wanita yang pernah dicintainya dan Geun-young hanyalah sosok pengganti. Apes baginya, ketika berusaha menyampaikan maksud tersebut, Seo-jun sudah lebih dulu tahu dan langsung membuatnya kehabisan kata-kata.

Yang apes adalah Geun-young, yang saat bertemu langsung diserang oleh sejumlah pernyataan termasuk soal wanita yang pernah dicintai Seo-jun. Akibatnya, masalah itu terus terpikir saat kencan makan malam romantis dengan pria itu. Dasar Geun-young orang yang blak-blakan, ia langsung menanyakan hal tersebut pada Seo-jun.


Mendadak Jae-min langsung mendapat ide untuk menjadikan Geun-young sebagai model dan meminta ijin pada Seo-jun, namun dengan senyum tipis pria itu menyebut bahwa semua itu bukan keputusannya alias terserah pada Geun-young.

Seo-jun sendiri sedang dipusingkan oleh tawaran untuk melakukan pemotretan di Afrika dengan bayaran menggiurkan, namun jangka waktu setahun yang harus ditempuh membuatnya menolak tawaran tersebut. Dasar Min-soo, ia malah menceritakan semua itu pada Geun-young dan menyalahkan sang kakak.

Keruan saja hal itu membuat Geun-young merasa bersalah dan mendatangi Seo-jun, dan dengan jujur pria itu mengaku bahwa saat ini prioritasnya adalah menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan gadis itu. Tidak ingin Seo-jun melewatkan kesempatan emas, Geun-young mengucapkan sesuatu yang membuat mereka harus terpisah.

Sambil mempersiapkan segala sesuatunya bersama Geun-young, Seo-jun menyempatkan diri untuk berpamitan pada Hee-won dan meminta maaf bila tindakannya menyakiti gadis itu. Dengan waktu yang semakin sedikit, Seo-jun memastikan untuk menghabiskannya sebanyak mungkin dengan Geun-young dan berjanji akan menemui gadis itu, yang rencananya akan ujian.

Terus melihat jam, Geun-young tidak bisa konsentrasi selama ujian dan dengan terburu-buru meninggalkan ruangan demi menemui Seo-jun di studio. Namun sampai disana, ia mendapati ruangan sudah dalam keadaan kosong dan hanya mendapati fotonya yang ditempel di dinding. Gadis itu hanya bisa menangis karena tahu pria itu sudah pergi.

Tertunduk lesu saat berjalan pulang, mendadak Geun-young teringat pada taman didekat rumahnya. Benar saja, ternyata Seo-jun ada disana untuk menunggunya. Sadar betapa pentingnya arti pria itu, ia akhirnya menyatakan cinta, yang disambut oleh Seo-jun dengan kalimat yang sama sebelum keduanya berciuman.

Akhirnya kisah cinta keduanya berakhir bahagia. Bagaimana dengan Min-soo? Setelah sang atasan pindah ke Afrika, ia berusaha melamar kerja ke sebuah studio dan bertemu seorang gadis cantik. Siapa sangka, pemuda itu malah mengalami nasib seperti Geun-young dan Jae-min, dikerjai dengan surat perjanjian. Akankah kisah cintanya berakhir seperti sang kakak?

source: Indosiar