Pages

08 Februari 2012

Sad Love Song 8-12

Saat hendak berjalan ke sekolah, Joon-young mendapat kabar bahwa Hyang-ja masuk rumah sakit. Disana, ia baru tahu kalau ibunya menderita penyakit jantung. Saat sadar, wanita itu memberikan sebuah hadiah tak terduga sambil meminta maaf atas sikap kerasnya selama ini.


Nyawa wanita itu tidak bisa diselamatkan, ia meninggal disebelah Joon-young. Saat membereskan barang-barang peninggalan Hyang-ja, ia tidak bisa menahan kesedihan dan menyesal telah bersikap buruk. Di Amerika, kondisi Audrey dan Hae-in semakin buruk karena Wesley tidak menghentikan kebiasaan minumnya. Puncaknya, ia menghancurkan kaset kiriman Joon-young dan memukul sang istri.


Cobaan bagi Joon-young belum juga berhenti, ayahnya Jun-il harus berurusan dengan pihak kepolisian karena masalah penipuan. Masing-masing akhirnya menempuh jalan hidup sendiri. Gun-woo pindah dan bersekolah di Amerika, dan saat tampil di sebuah taman ia bertemu dengan Hae-in. Seketika itu juga, ia jatuh cinta.


Saat itu, hidup Hae-in dan Audrey sendiri sedang kesulitan. Setelah memutuskan untuk keluar dari rumah Wesley, sang bibi harus mencari pekerjaan sendiri untuk menghidupi mereka. Akhirnya, wanita itu kembali ke profesi lamanya sebagai penyanyi bar.


Memutuskan untuk menolong ayahnya yang terjerat kesulitan, Joon-young memutuskan untuk memberikan tabungan peninggalan ibunya untuk menebus semua. Namun, sang ibu tiri yang dititipkan uang tersebut malah kabur


Saat lari pagi, secara tidak sengaja Gun-woo bertemu dengan Hae-in di taman. Ia terkejut melihat reaksi gadis itu yang panik saat menyelamatkan surat-surat yang terbang, kejadian itu akhirnya membuat mereka berkenalan. Melihat baju gadis itu basah, ia membelikan yang baru.


Kejadian tersebut kontan membuat Hae-in tidak enak dan berniat membayar, namun Gun-woo mengatakan bahwa 'pengorbanan'nya itu cukup ditebus dengan gadis itu mengingat suaranya. Di Korea, kesulitan hidup yang bertubi-tubi membuat Joon-kyu putus asa. Namun berkat dukungan semangat rekannya, ia bisa bangkit.


Namun Joon-young kembali galau saat tahu surat-suratnya tidak pernah dibalas Hae-in. Pemuda itu tidak sadar kalau gadis itu sudah pindah dan surat-suratnya dibakar oleh Wesley. Di Amerika, dengan caranya yang unik Gun-woo berhasil membujuk profesornya untuk bisa menerimanya kembali di kelas.


Tidak hanya itu, ia juga berkencan dengan gadis tercantik di kampusnya. Namun sikapnya langsung berubah saat gadis itu mulai menaruh barang-barang di apartemennya, keduanya bertengkar dan putus. Di Korea, Hwa-jung berusaha membujuk Joon-young agar boleh tinggal bersama, namun begitu melihat surat-surat Hae-in yang baru sampai, gadis itu langsung mengambil tindakan drastis.


Bertemu kembali dengan Gun-woo, Hae-in merasa senang ketika pemuda itu menawari bibinya Audrey untuk mengikuti audisi di sebuah bar. Namun, kecelakaan kecil membuat semuanya nyaris saja berantakan. Sebagai jalan akhir, pemuda itu mengusulkan supaya Hae-in yang maju menggantikannya.


Permintaan tersebut kontan membuat sang bibi kuatir, apalagi Hae-in tidak punya pengalaman menyanyi sama sekali. Diatas panggung ketika melihat gadis itu hanya terdiam, Gun-woo langsung turun tangan dan memainkan piano. Hasilnya mengejutkan, Hae-in mampu menyanyi dengan suara yang sangat indah


Mendengar begitu banyak perubahan yang terjadi di Korea, Hae-in memutuskan untuk mengumpulkan uang dan kembali ke sana. Namun uang tabungannya ternyata dihabiskan Audrey yang berjudi di kasino, kontan gadis itu menangis tersedu-sedu.


Kembali bertengkar dengan berandalan di kota asalnya, kalung Hae-in yang terjatuh diambil Hwa-jung sehingga pria itu mencari seharian tanpa hasil. Namun saat pulang, ia mendapat kabar dari Charlie bahwa pria itu telah bertemu dengan Hae-in di Amerika.


Bertaruh dengan sahabat Amerikanya Danny mengenai Hae-in, Gun-woo terkejut melihat kemunculan gadis itu di pesta ulang tahun kejutannya. Ia mengira gadis yang disukainya itu hanya seharga 1000 dolar, tanpa sadar bahwa tujuan Hae-in menerima adalah supaya bisa membeli tiket pesawat kembali ke Korea dan bertemu Joon-young.


Kembali ditolak mentah-mentah, Gun-woo memutuskan lari ke pelukan wanita lain. Paginya, pemuda itu mendengar rekaman Hae-in yang ditujukan kepada Joon-young yang jatuh ketangannya, ia tidak sadar kalau pria yang dimaksud adalah Joon-kyu sahabatnya.


Setelah bertemu Hae-in, ia mendapat telepon dari Korea, rupanya Gun-woo diminta untuk menjadi penjamin Joon-kyu sahabatnya yang ingin pergi ke Amerika untuk menyusul gadis yang dicintainya. Saat pulang, Hwa-jung yang mengira Joon-young telah memikirkannya marah besar.


Dengan penuh rasa cemburu, gadis itu menulis surat ke Hae-in dan mengabarkan kalau Joon-young telah meninggal dengan menyertakan kalung pemberian gadis itu sebagai bukti. Namun, Audrey yang tidak tega membohongi keponakannya


Audrey yang sedang tidur dikejutkan oleh suara Hae-in, rupanya gadis itu sudah tahu kalau kalung yang dikirim lewat surat adalah miliknya yang diberikan pada Joon-young. Karena ia tahu pemuda itu tidak akan pernah melepasnya, itu berarti satu : orang yang dicintainya telah tiada.


Dalam keadaan putus asa, Hae-in berjalan ditengah padatnya jalan raya dan, didepan mata Gun-woo yang kebetulan melintas, tertabrak sebuah mobil. Karena sibuk menolong gadis itu, Gun-woo mengutus salah seorang anak buahnya untuk menjemput Joon-young/Joon-kyu.


Paginya, Joon-young memulai pencariannya dan tiba di bar tempat Charlie bekerja. Betapa terkejutnya ia mendengar kabar bahwa Hae-in dan bibinya telah kembali ke Korea. Tidak percaya begitu saja, ia menyusul ke apartemen kekasihnya itu dan mendapat kabar dari tetangga disana bahwa tempat itu sudah kosong.
Kejadian itu benar-benar memukul mental Joon-young, percuma saja ia menempuh jarak ribuan mil untuk bertemu gadis yang dicintainya. Di rumah sakit, Gun-woo mendengar cerita Audrey bahwa salah satu alasannya pindah ke Amerika adalah karena mantan kekasihnya Wesley menjanjikan siap membiayai operasi mata Hae-in supaya bisa melihat kembali.


Berusaha mencari informasi kemana Hae-in pergi, Joon-young mendatangi rumah Wesley. Namun saat berada didalam bis, tanpa sengaja ia membawa paket milik Charlie yang kebetulan tertinggal tanpa sadar bahwa apa yang ada didalamnya adalah narkoba. Sementara itu, Hae-in yang sadar menceritakan pada sang bibi Audrey bahwa dalam mimpinya, ia melihat Joon-young meninggal.


Saat sampai diapartemennya, Gun-woo mendapat sejumlah pesan voicemail dari Joon-kyu, yang terakhir mengabarkan keberadaan pemuda itu di sebuah bar di daerah Brooklyn. Saat menyusul kesana, ia melihat sahabat akrabnya itu ditarik masuk ke sebuah mobil oleh sejumlah orang bertubuh besar.


Dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut menuju ke sebuah gudang yang telah ditinggalkan. Didalam, Joon-kyu melihat Charlie dalam keadaan babak belur. Bisa ditebak, terjadi pertarungan tidak seimbang namun di saat-saat terakhir, Gun-woo muncul dan membantu sahabatnya itu.


Berusaha meloloskan diri, ketiganya tunduk oleh todongan senjata musuh. Beruntung saat keadaan genting, pihak kepolisian muncul. Berita ditahannya Gun-woo terdengar sampai ke Korea, dan membuat kakak iparnya, yang sempat dipergoki berselingkuh, marah besar

Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi : Joon-kyu dan Charlie harus kembali ke Korea alias dideportasi. Menyusul Gun-woo untuk mengucapkan terima kasih, Joon-young/Joon-kyu tidak sadar kalau gadis yang ada didalam kamar adalah Hae-in.


Sayang, mata gadis itu buta sehingga saat berpaling tepat menghadap Joon-young, ia tidak bisa melihat sosok pemuda yang dicintainya itu. Begitu taksi yang membawa pemuda itu pergi, Hae-in berusaha bunuh diri namun Gun-woo muncul dan mengingatkan cinta sejati gadis itu pasti menginginkannya hidup.


Sesampai di Korea, Joon-young dan Charlie (yang ikut dideportasi) meneruskan pencarian Hae-in namun tidak berhasil. Saat putus asa, pemuda itu mendengarkan rekaman suara gadis yang dicintainya itu menyanyikan lagu L.O.V.E. sehingga semangatnya bangkit lagi.


Di Amerika, Gun-woo yang kuatir dengan kondisi Hae-in menemui Audrey dan menawarkan untuk mendanai biaya operasi dengan syarat namanya tidak disebut. Begitu berita itu disampaikan kepada gadis yang dimaksud, jawaban Hae-in sangat mengejutkan : ia menolak karena di dunia ini tidak ada yang ingin dilihatnya lagi.


Jawaban tersebut membuat Audrey sangat marah, ia menumpahkan semua unek-uneknya dan pergi meninggalkan sang keponakan. Putus asa karena tidak mempunyai sandaran hidup, Hae-in akhirnya setuju, keduanya berpelukan sambil menangis terisak-isak.


Saat mengunjungi sang ayah Jun-il yang berada di penjara, Joon-young menceritakan kalau ia akan menempuh wajib militer dan mungkin tidak akan muncul selama beberapa waktu. Di atap rumahnya, pemuda itu mengungkapkan kepergiannya itu dalam sebuah rekaman dan mengungkapkan kerinduannya.
Saat membuka mata dan melihat dunia untuk pertama kalinya, yang teringat oleh Hae-in bukanlah ang bibi Audrey atau Gun-woo, melainkan ucapan Joon-young yang mengatakan kalau saat gadis itu bisa melihat kelak, ia pasti bisa mengenali sosok pria yang dicintainya itu. Tanpa terasa, air mata Hae-in menetes.



Source:www.indosiar.com