Pages

10 Februari 2012

Sad Love Song 13-20


Setelah tidak buta lagi, Hae-in mulai menuai kesuksesan di atas panggung. Suaranya mampu membius para penonton yang menyaksikan, gadis itu juga terus didampingi oleh Gun-woo yang kerap mengantarnya dan sang bibi Audrey.


Hidup bahagia dan siangnya bekerja sambilan di restoran pizza, Hae-in meneruskan kebiasaannya merekam suara untuk Joon-young. Diundang makan malam oleh Gun-woo, pemuda itu menyiapkan pesta kejutan bagi Hae-in, yang ternyata hari itu berulang tahun.


Meski sadar kalau gadis itu belum bisa menerima kehadiran pria lain, Gun-woo mengatakan bakal menunggu sampai kapanpun. Ucapan gadis itu yang mengatakan tidak akan melupakan pria yang dicintainya sampai kapanpun membuat pemuda itu shock.


Mendengar masalah pemuda itu, Audrey mulai jengkel dengan sang keponakan namun Gun-woo memohon supaya identitasnya sebagai donatur tidak dibuka. Tidak terasa, beberapa tahun telah berlalu. Di Korea, Joon-young telah menuntaskan wajib militernya dan di Amerika, Gun-woo juga telah menuntaskan kuliahnya.


Saat berdua di pinggir sungai, Gun-woo memberikan cincin berlian kepada gadis yang dicintainya itu. Tidak hanya itu, ia juga mengajak Hae-in kembali ke Korea. Pulang ke negara asalnya sebagai sepasang kekasih, pemuda itu berniat memperkenalkan sang pacar kepada sahabatnya Joon-kyu.
Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Joon-kyu/Joon-young melihat gadis yang dinantinya selama ini berada didepannya namun telah menjadi kekasih sahabat baiknya, ia hanya bisa diam dan bagai orang linglung saat ketiganya makan bersama.


Hae-in sendiri bukannya tidak merasakan ada yang aneh, saat pulang ke hotel ia mulai menanyakan kepada sang bibi soal wajah Joon-young yang sebenarnya. Belakangan ia mengaku kalau sahabat Gun-woo yang ditemuinya mempunyai suara yang sangat mirip dengan Koon-young pria yang dicintainya

Tidak bisa lagi menahan kerinduannya, Joon-young menyusul Hae-in ke hotel tempatnya menginap. Namun saat mengecek ke resepsionis, nama itu ternyata tidak ada. Saking ngototnya ingin mencari, ia bahkan harus diusir oleh petugas keamanan hotel.


Joon-young/Joon-kyu berhasil menyusup masuk ke hotel namun ia berselisih jalan dengan Hae-in yang turun ke bawah untuk makan siang. Begitu melihat kaset rekaman, ia tidak bisa menahan diri lagi namun foto sang kekasih yang nampak mesra bersama Gun-woo membuat nyawanya seolah terbang.
Sadar kalau ia tidak bisa lagi bersama gadis yang dicintainya, Joon-young hanya bisa menangis sambil menggenggam cincin yang semula hendak diberikan pada Hae-in saat bertemu. Menghabiskan hari-harinya di pinggir jalan dengan mabuk, perubahan sikapnya membuat Gun-woo heran.


Namun pria itu tidak menyerah. Saat hari pembebasan ayah Joon-kyu, Gun-woo kembali berusaha membujuk sahabatnya itu untuk bergabung dengan perusahaannya dan menciptakan lagu-lagu berkualitas. Namun saat kembali menolak untuk kesekian kalinya, ia berpapasan dengan Hae-in yang mulai merasakan getaran saat mendengar suara pria itu.


Bertemu didepan pintu, Audrey terkejut melihat pria yang dikiranya telah mati itu. Meski sudah dijelaskan, Joon-young tidak berdaya mendengar permintaan bibi Hae-in itu supaya ia menjauhi gadis itu dan membiarkannya hidup bahagia dengan Gun-woo. Ia sadar bahwa dalang semua itu adalah Hwa-jung, dan meminta gadis itu supaya tidak lagi muncul dihadapannya.


Di hotel, perasaan Hae-in yang tidak enak semakin kacau saat melihat kaset rekamannya telah lenyap semua. Ia hanya bisa menangis saat mendengar sang bibi telah membuang semuanya. Kini, satu-satunya kenangan yang tersisa adalah mengunjungi pondok dimana ia dan Joon-young kerap menyepi saat kecil



Supaya tetap bisa bersama Hae-in dan menjaganya dari kejauhan, Joon-young/Joon-kyu akhirnya menerima tawaran Gun-woo untuk bekerja sebagai pencipta lagu. Untuk menyempurnakan karir gadis itu sebagai artis sukses, Joon-kyu diminta sebagai pelatih.


Sadar kalau Hae-in belum bisa melupakan dirinya, Joon-kyu melatih gadis itu dengan keras, bahkan saat didalam studio ia dimarahi karena tarikan suaranya dianggap belum pas. Diajak keluar, Hae-in diminta mengikuti nada dasar yang dimainkan pemuda itu, dan terus dibentak supaya suara yang dikeluarkan lebih keras.


Gun-woo yang belakangan muncul meminta ijin supaya gadis itu dibiarkan istirahat, namun dengan cepat Joon-kyu membantah dan menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki Hae-in belum cukup sebagai seorang aktris rekaman.


Keadaan semakin kacau setelah Hwa-jung muncul dan ditawari pekerjaan di perusahaan milik Gun-woo. Melihat Hae-in, gadis itu terkejut namun ia berhasil menyamarkan kekagetannya itu dan berpura-pura baik. Saat ditanya soal Joon-young, gadis itu berkelit dan meminta Hae-in untuk memperlakukan tunangannya dengan baik.


Langsung disemprot Joon-young saat keduanya bertemu, Hwa-jung berjanji tidak akan membongkar identitas pemuda itu yang sesungguhnya. Untuk melampiaskan kekesalannya, Joon-kyu semakin keras melatih Hae-in yang malah berbuntut pertengkaran keduanya.


Untuk menghibur, Gun-woo mengajak tunangannya itu ke sebuah bar bersama Joon-kyu. Dalam keadaan terpojok, Hae-in menyebut kalau pria yang dicintainya tidak akan memperlakukannya sekasar itu. Hal itu membuat sikap Joon-kyu semakin beringas, tujuannya satu : Hae-in harus melupakan sosok Joon-young


Gun-woo memainkan lagu yang begitu indah didepan sang tunangan, tanpa sadar kalau yang dibayangkan gadis itu hanyalah Joon-young. Mendengar kalau lagu itu ciptaan Joon-kyu dan apa yang terjadi pada pria yang kerap memerahinya itu, Hae-in tercengang.


Berkat didikan keras, Hae-in sukses dan siap menggelar konser. Keberhasilan itu dirayakan bersama dengan bermain ski, melihat kedekatan Gun-woo dan Hae-in, Jon-kyu sadar kalau itulah yang terbaik untuk gadis itu. Demi menutupi sakit hatinya, ia menutupi wajahnya dengan topi sehingga air matanya tidak terlihat.


Karena ada masalah keluarga, Gun-woo harus pergi dan menitipkan Hae-in kepada Joon-kyu. Rupanya, sang ayah marah besar saat tahu putranya itu menggelar konser dan memerintahkan supaya semua dibatalkan. Di tempat lain, sikap Joon-kyu mulai melunak, dengan sekuat tenaga ia berusaha membangkitkan rasa percaya diri Hae-in yang bakal tampil di konser.


Belakangan Kang-in menyetujui supaya konser tetap digelar asalkan Gun-woo mau menikah dengan Kang Shin-hee. Di tempat konser, Joon-kyu dkk kebingungan saat mendapati gedung tersebut dijaga oleh para pengawal. Tidak kehilangan akal, ia mengusulkan supaya acar digelar di luar gedung alias tempat terbuka.


Diiringi permainan piano Joon-kyu, Hae-in melantunkan lagu pertamanya dengan perasaan deg-degan. Begitu selesai, sambutan yang diberikan penonton yang memadati arena ski tersebut luar biasa, Gun-woo yang baru tiba tercengang dan diam-diam salut akan kecerdikan sahabatnya itu



Melihat Hae-in dalam keadaan mabuk, Audrey menarik gadis itu dan meminta Gun-woo untuk membawanya ke kamar. Saat berdua, ia meminta pemuda itu untuk menjauhi keponakannya. Seolah belum cukup, mantan preman memanfaatkan ketidaktahuan Hae-in untuk menekan Joon-young.


Setelah konser tunggal tersebut, praktis nama Hae-in menjadi terkenal. Tidak ingin terus ditekan dan membuat gadis itu menderita, Joon-kyu memutuskan untuk mundur dan menghilang dari kehidupan Hae-in. Siapa sangka, ia malah diajak pergi ke sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi : rumah dimana dia dan Hae-in dulu kerap bersembunyi.


Meski sukses besar, diam-diam Gun-woo merasa ada yang berubah dalam diri Hae-in. Gadis itu sendiri sedang menceritakan masa lalunya pada Joon-kyu, tanpa sadar kalau pria itulah Joon-young yang dirindukannya. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan pemuda itu yang berbohong kepergiannya adalah untuk berlibur dengan sang kekasih.


Rupanya, diam-diam Hae-in telah menyukai sosok Joon-kyu dan mulai merasa kalau dirinya bakal kehilangan bila sosok pria yang kerap memarahinya itu pergi. Sebelum berpisah, gadis itu berkata ikut bahagia pemuda itu bisa berbahagia bersama gadis pilihannya. Saat sedang minum arak, mendadak Gun-woo muncul.


pemuda itu kaget saat tahu Joon-kyu hendak mengundurkan diri dengan alasan istirahat. Sebelum pergi, Joon-kyu/Joon-young menyempatkan diri mampir di pondok tempatnya dulu bersama Hae-in, dan dengan rekamannya mengatakan bahwa meski harus pergi, ia sendiri bingung harus pindah kemana untuk menghindari gadis itu.


Pertama kali bertemu calon ayah mertuanya Kang-in, Hae-in langsung mendapat sambutan tidak enak. Dari situ, ia baru tahu kalau proses rekaman menghabiskan biaya besar dan telah membuat perusahaan berhutang. Pria setengah baya itu juga menyebutkan kalau Gun-woo telah memiliki calon istri, dan Hae-in tidak pantas bersanding dengan putranya.


Dengan hati kalut, Hae-in melangkahkan kakinya ke pondok tempatnya menghabiskan masa kecil dan terkejut saat tahu Joon-kyu ada disana. Mulai curiga ada sesuatu yang janggal, tulisan di kaca membuat Hae-in langsung berlari keluar dan dengan mencucurkan air mata meneriakkan nama Joon-young yang hendak melangkah pergi.



Menghabiskan malam di pondok, Hae-in tak henti-hentinya meraba wajah dan menyebut nama Joon-young. Meski berbohong dengan mengatakan kalau dirinya bisa hidup tanpa gadis itu, Joon-young tak berkutik ketika Hae-in menyatakan lebih baik mati daripada berpisah lagi.


Memutuskan untuk keluar dari rumah, langkah Gun-woo meneruskan perusahaan rekamannya diganjal sang ayah yang meminta menantunya, yang diam-diam tersenyum, untuk menghentikan sepak terjang putranya itu. Sementara itu, Joon-young dan Hae-in menghabiskan hari dengan romantis tanpa sadar kalau gadis itu sedang menjadi incaran wartawan.


Kembali setelah membelikan obat, Joon-young mendapati Hae-in telah pergi. Rupanya Gun-woo telah menyelamatkannya dari kejaran wartawan, namun saat berbicara empat mata, gadis itu menyebut kalau dirinya tidak ingin menjadi penyanyi lagi.


Dikerubungi wartawan dan ditanya seputar hubungannya dengan Hae-in, Gun-woo naik pitam dan memukul seorang diantaranya serta membanting kamera pers. Di apartemen, Hae-in didepan Audrey akhirnya mengaku kalau dirinya telah mengetahui identitas Joon-young namun saat hendak melangkah pergi, langkahnya tertahan oleh ucapan sang bibi yang menyebut operasi matanya dibiayai Gun-woo.


Saat minum di bar bersama Joon-youn, Gun-woo yang biasanya kuat meneteskan air mata saat menceritakan kalau Hae-in ingin meninggalkannya. Melihat sahabatnya begitu menderita, Joon-young merasa bersalah karena dirinyalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian itu.
Mendengar Joon-young ada di vila untuk mengantarkan Gun-woo yang mabuk, Hae-in menyusul dan bertemu pemuda itu di dermaga. Meski telah diyakinkan, gadis itu (meski merasa berhutang budi) ngotot untuk memberitahu Gun-woo tentang semuanya


Dikerubungi wartawan dan ditanya seputar hubungannya dengan Hae-in, Gun-woo naik pitam dan memukul seorang diantaranya serta membanting kamera pers. Di apartemen, Hae-in didepan Audrey akhirnya mengaku kalau dirinya telah mengetahui identitas Joon-young.


Namun saat hendak melangkah pergi, langkahnya tertahan oleh ucapan sang bibi yang menyebut operasi matanya dibiayai Gun-woo. Saat minum di bar bersama Joon-kyu, Gun-woo yang biasanya kuat meneteskan air mata saat menceritakan kalau Hae-in ingin meninggalkannya. Kontan, pemuda itu merasa sangat bersalah.


Mendengar Joon-young ada di vila untuk mengantarkan Gun-woo yang mabuk, Hae-in menyusul dan bertemu pemuda itu di dermaga. Meski telah diyakinkan, gadis itu (meski merasa berhutang budi) ngotot untuk memberitahu Gun-woo tentang semuanya.


Melihat kondisi pria itu yang mengenaskan, Hae-in sempat ragu-ragu terutama bila mengingat kebaikan hati Gun-woo terutama ketika tunangannya itu meminta penjelasan kenapa gadis itu ingin meninggalkannya. Akhirnya, Hae-in harus mengambil keputusan yang membuat hatinya pedih : tetap berada disamping Gun-woo.


Saat digelar konferensi pers, Joon-young hanya bisa menyaksikan dari kejauhan melihat gadis yang dicintainya seumur hidup bersanding disamping sahabat baiknya. Hati Gun-woo sendiri begitu berbunga-bunga, ia berjanji bakal membahagiakan kekasihnya itu tanpa bantuan sang ayah.


Saat bertemu Hae-in, Joon-young memintanya untuk melupakan pria itu supaya bisa hidup bahagia. Ucapan tersebut kontan membuat Hae-in sedih dan langsung berlari meninggalkan Joon-young, ia tidak sadar kalau dibelakangnya pemuda itu meneteskan air mata.


Langsung didatangi oleh Hwa-jung, Hae-in melakukan tindakan yang sama sekali tidak diduga : ia menampar gadis itu dan menyebut tidak akan pernah memaafkannya karena telah memisahkan Hae-in dengan Joon-young. Belakangan, ia memutuskan untuk mengikuti kompetisi bakat yang hadiahnya menjanjikan kontrak rekaman.


Kejadian itu semakin membuat Hwa-jung mendendam, pasalnya gadis itu juga mengikuti kompetisi yang sama namun dengan kehadiran Hae-in, peluangnya untuk menang tipis. Saat bertemu muka, ia mengatai Hae-in sebagai orang yang tidak tahu diri. Bertekad membuktikan diri, Hwa-jung unjuk kebolehan menari didepan para juri


Berkat bujukan Shin-hee, Joon-kyu akhirnya mau pergi ke pesta sebagai pasangan gadis itu, serta bertemu Gun-woo dan Hae-in disana. Dalam keadaan mabuk, ia dibawa Shin-hee ke kamar dan secara tidak sengaja menyebut nama Hae-in. Bisa ditebak, rahasia keduanya akhirnya ketahuan.


Saat keluar dari hotel bersama Shin-hee, keduanya bertemu dengan Hae-in dan Audrey. Saat diminta penjelasan, Joon-young malah menanggapi dengan dingin. Berlari kekamar mandi untuk menghapus air mata, disana ia bertemu Shin-hee yang menasehati supaya gadis itu bisa hidup bahagia.


Masalah semakin bertambah ketika Hwa-jung meminta pacarnya Lee Mi-young supaya bisa memenangkan kompetisi bagaimanapun caranya. Akibatnya, pria itu dengan gerombolannya menculik gadis itu. Beruntung, dari belakang Joon-young melihat sehingga dengan cepat ia mengejar.


Dibawa ke dalam sebuah gudang, Joon-young mendadak muncul sehingga terjadi pertarungan sengit. Meski berhasil menyelamatkan Hae-in, namun pemuda itu terluka parah setelah terkene tusukan Mi-young. Dalam keadaan setengah sadar, Joon-young nekat mengemudikan mobil dan ngotot mengantar gadis itu ke tempat perlombaan.


Hae-in akhirnya berhasil melarikan mobil ke rumah sakit, dan di luar UGD menangis meraung-raung sehingga menjadi perhatian orang banyak. Ketidakhadirannya ditempat lomba membuat namanya gugur, sehingga Hwa-jung tampil sebagai juara.


Gun-woo tidak kalah kalut saat mengetahui Hae-in menghilang, padahal gadis itu sengaja menyepi untuk merawat Joon-young. Kepada sang bibi Audrey, ia menitipkan pesan kalau baik-baik saja dan meminta supaya Gun-woo tidak mencarinya.




Source:www.indosiar.com