Pages

25 Februari 2012

Stairway To Heaven 4-8


Begitu sampai di bandara, Song-ju meninggalkan Yuri yang telah menjadi tunangannya. Gadis itu disambut sang ibu, yang langsung dicecar pertanyaan tentang keberadaan Jung-suh yang menghilang bersama ayah dan kakaknya sejak kejadian tabrakan itu.

Jung-suh yang telah berganti nama menjadi Ji-su sendiri hidup bahagia dan bekerja sebagai penjual pakaian ditemani oleh Tae-hwa. Keduanya pergi bermain ke pantai, yang secara kebetulan adalah pantai dimana Song-ju berada. Saat melihat-lihat sebuah rumah di pinggir pantai itu, Ji-su melihat Song-ju yang sedang bermain piano dengan wajah muram.

Keduanya nyaris bertatapan muka kalau saja Tae-hwa tidak muncul dan mengajak Ji-su pulang. Saat mengemudi kembali kekota, mobil Tae-hwa menabrak mobil orang asing yang ternyata adalah asisten Song-ju yang memintanya pulang untuk meneruskan bisnis keluarga.

Kehadiran Song-ju dan ide-idenya membuat Yuri dan Mira berusaha mencari muka, namun di belakang keduanya mulai gundah karena terlihat jelas bahwa pria itu belum bisa melupakan Jung-suh meski telah bertunangan.

Ji-su rupanya diberitahu bahwa ia adalah korban sebuah kebakaran dan kedua orang tuanya telah meninggal. Dirumah, Tae-hwa menanyakan apakah gadis itu menyukainya, yang dengan cepat dijawab YA. Ditempat lain, hal serupa juga dilakukan Yuri, namun Song-ju berkelit dengan mengatakan bahwa mereka telah bertunangan sehingga hal itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ketika meninjau pasar swalayan milik perusahaannya, Song-ju secara sekilas melihat wajah Ji-su. Ia terkejut dan langsung mengejar gadis itu sampai ke stasiun bawah tanah, namun tidak berhasil menemukannya. Kejadian itu membuatnya terpukul, ia mengira bahwa itu hanya khayalan belaka. Namun, kejadian di taman bermain mengubah semuanya.

Saat melihat komedi putar, Song-ju sambil menggenggam kalung mengira bayangan Jung-suh kembali mempermainkannya. Namun rupanya itu bukan khayalan, ia langsung mengejar Ji-su yang berjalan sambil berpelukan dengan Tae-hwa. Pertemuan itu membuat Tae-hwa panik dan menarik gadis itu pergi, namun diperjalanan kaki Ji-su terkilir.

Berjalan tertatih-tatih dan kebingungan dengan sikap Tae-hwa yang meninggalkannya, Ji-su berpapasan dengan Song-ju. Pria itu dengan wajah tidak percaya terus menatap gadis itu, dan tidak percaya walau Ji-su telah memberitahu namanya.

Tidak menyerah, Song-ju mengejar bis yang ditumpangi Ji-su dan terus berusaha meyakinkan gadis itu bahwa dirinya adalah Jung-suh yang selama ini disangka telah meninggal, bahkan menunjukkan foto mereka saat masih remaja. Namun, tingkah itu malah membuat Ji-su takut dan lari meninggalkannya.

Dalam kegundahannya, Song-ju melihat boneka yang dulu kerap dipakai bermain Jung-suh dan membatin dengan penuh keyakinan bahwa pertemuan tersebut bukan sengaja sambil memegang kalung. Ditempat lain, Ji-su juga melakukan hal yang sama sambil mengingat kejadian siang itu.

Ketika tersadar, Song-ju menemukan surat dari Yuri didepan rumah pantai. Ia kaget mendengar ungkapan perasaan gadis itu, dan lari menyusul. Rupanya, gadis itu berniat bunuh diri dengan menenggelamkan diri, namun Song-ju tiba tepat pada waktunya dan dan berhasil menyelamatkan nyawa gadis itu.

Yuri dibawa pulang kerumahnya, Mira yang terkejut melihat kondisi putrinya langsung marah-marah ke Song-ju yang dianggap mempermainkan perasaan orang. Namun, hal itu tidak bisa menutupi rasa ingin tahu pemuda itu tentang Ji-su. Berpura-pura sebagai pembeli, Song-ju mendatangi toko Ji-su.

Kemunculan pemuda itu tentu saja mengejutkan, apalagi sikap Song-ju yang dianggap sangat lancang. Bahkan saat hendak naik kereta api bawah tanahpun, Song-ju terus mengikuti. Ji-su baru berhasil lolos setelah mencuri tike kereta Song-ju, yang membuatnya harus berurusan dengan pihak berwajib.

Mendengar rencana untuk mengembangkan pakaian lokal, Song-ju langsung setuju karena tujuan utamanya adalah merekrut Ji-su. Ia mendatangi tae-hwa yang salah tingkah, pertemuan mereka terlihat oleh Yuri yang langsung pucat-pasi. Untuk menutupi kejahatannya, ia berusaha menakut-nakuti sang kakak supaya pergi.

Tae-hwa direkrut sebagai pelukis di taman bermain, sementara Ji-su menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan Song-ju. Ketika datang kekantor pria itu, ia bertemu dengan Yuri yang wajahnya langsung pucat bagai melihat orang mati hidup kembali.

Namun, ia tidak bisa menolak karena ada ancaman hukuman bagi orang yang melanggar kontrak. Dengan menggerutu, Ji-su menanyakan pada salah satu rekan kerjanya kenapa orang seperti Song-ju bisa menjadi direktur. Dari rekan tersebut, ia baru tahu kalau pemuda itu adalah anak pemilik.

Pekerjaan baru membuat Ji-su satu ruangan bersama Yuri, yang makin meradang saat tahu masuknya gadis itu adalah berkat rekomendasi Song-ju. Karena panik, ia memecahkan gelas dan menelepon sang ibu. Dengan tenang, Mira malah meminta supaya putri kesayangannya itu untuk cepat-cepat meresmikan pernikahannya dengan Song-ju.

Ji-su memulai tugasnya dengan mendatangi sebuah butik dan mencoba satu-persatu pakaian disana. Saat keluar, ia kaget mendengar semua pakaian yang dicoba telah dibayari seseorang, tak jauh dari sana Song-ju tersenyum dan mengatakan bahwa itu dilakukan supaya bisa mengetahui kualitas produk saingan. Dengan entengnya, pria itu meninggalkan Ji-su yang membawa banyak tas belanjaan.

Melihat kemesraan Ji-su dan Tae-hwa ditelepon, Song-ju berulah dan menugaskan gadis itu untuk mendesain pakaian di jam istirahat. Sambil menyimak hasil rancangan, diam-diam Song-ju mencuri pandang. Adegan itu dilihat Yuri, yang langsung memanas-manasi Tae-hwa yang sedang menyelesaikan tugas menggambar dinding taman bermain.

Keduanya berlari ke ruangan Song-ju, namun sang direktur dan Ji-su telah pergi ke rumah pantai. Di perjalanan, Song-ju memutar kaset berisi rekaman suara berisi pernyataan cintanya beberapa tahun silam, dan mengatakan bahwa yang namanya cinta pasti akan kembali. Dipinggir pantai, ia mengajak Ji-su bermain, seolah mengulang masa-masa indahnya bersama Jung-suh.

Saat didalam rumah pantai, Ji-su mendengar permainan piano Song-ju dan bisa merasakan kesepian dan penderitaan yang dirasakan pria itu. Setelah selesai, Song-ju meminta ijin untuk memeluk Ji-su, air matanya menetes karena kesedihan yang mendalam. Saat keluar, keduanya berpapasan dengan ayah Jung-suh yang kaget dan menyangka bahwa Ji-su adalah Jung-suh.

Kepergian Ji-su membuatnya bertengkar hebat dengan Tae-hwa. Sambil menangis, gadis itu berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Saat pagi tiba, Ji-su menyiapkan surat pengunduran dirinya dan bertekad untuk tidak lagi bertemu Song-ju.

Awalnya, Ji-su berniat untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya namun gagal. Pembicaraan teralih karena hari itu ternyata adalah ultah Song-ju, pemuda itu meminta supaya Ji-su tidak pergi sampai acara tiup lilin. Dengan sulapnya, Song-je memberi hadiah pada gadis itu.

Mendadak telepon Ji-su berdering, namun gadis itu mematikannya untuk menepati janji. Setelah meniup lilin, wajah Song-ju semakin mendekat kearah Ji-su, namun keduanya tidak berciuman karena ditahan oleh tangan gadis itu yang terasa basah oleh air mata sang direktur. Untuk membahagiakan pria yang berultah itu, Ji-su memberi hadiah istimewa.

Ia berjanji ikut ketempat tinggal Jung-suh bersama Song-ju, dan meminta untuk dibiarkan pergi setelah menjawab semua misteri seputar dirinya. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi seisi rumah, Yuri terbelalak kaget dan pura-pura ngambek, Mira sempat pura-pura pingsan, sementara ibu Song-ju dan ayah Jung-suh terkejut karena tidak menyangka sama sekali.

Usai mengobrol dan melihat barang-barang peninggalan Jung-suh, Song-ju dengan berat hati melepas kepergian gadis itu dengan mencium keningnya sambil bercucuran air mata. Keduanya saling bertatapan sebelum berpisah, diluar Ji-su langsung menghampiri Tae-hwa yang dengan setia menunggu kedatangannya.

Keduanya memutuskan untuk bertunangan, Tae-hwa memberikan cincin sederhana sementara Ji-su membuang kalung yang tanpa disadari adalah pemberian Song-ju. Karena melihat cincin itu, Song-ju yang naik darah menolak presentasi Ji-su sehingga gadis itu semakin naik pitam. Saat makan direstoran, Tae-hwa dan Ji-su duduk dengan posisi saling memunggungi dengan Song-ju dan Yuri.

Setelah keempatnya duduk disatu meja, Song-ju memainkan piano yang kebetulan berada disana. Mendengar lagu yang dimainkan sama dengan saat berada dirumah pantai, Ji-su yang sudah tidak tahan lagi mengajak Tae-hwa pergi. Malamnya, Song-ju menghabiskan waktu dengan mabuk di diskotek, namun ia menyempatkan diri mampir di kantor dan menyelimuti Ji-su yang tertidur karena lelah.

Saat bangun, gadis itu keheranan melihat jas yang menyelimuti pundaknya dan langsung menebak bahwa itu ulah Song-ju. Keduanya makan malam dengan menghabiskan pizza yang dipesan dan mengobrol di caroussel. Selain itu, Song-ju juga mengajak Ji-su bermain ski es di taman bermain. Keceriaan dan senyum gadis itu semakin mengingatkan Song-ju pada Jung-suh yang telah tiada.

Obrolan dengan Song-ju membuat Ji-su mendapat ide baru untuk desain, ia bekerja hingga larut untuk menyelesaikan rancangannya. Kerja kerasnya tidak sia-sia, di presentasi Ji-su mendapat acungan jempol dari Song-ju, pertanda bahwa produk itu siap diluncurkan kepasaran.

Ketika berdua didalam lift, Ji-su mengucapkan terima kasih pada Song-ju dan dengan jujur mengatakan bahwa penutup kepala miliknya-lah yang menjadi inspirasi. Kebersamaan mereka dilihat Yuri yang dibakar api cemburu, yang kemudian menyusul keduanya lewat tangga. Gadis itu kemudian mencari gara-gara dengan memberi Ji-su tugas tambahan.

Kabar keberhasilan Ji-su diceritakannya pada Tae-hwa yang sedang melukis, kemesraan mereka saat bercanda membuat Song-ju yang mengintip dari kereta menjadi panas. Namun nasib kembali mempertemukan keduanya saat hendak membeli cincin pertunangan, Ji-su yang kesal langsung menyerahkan tugasnya dengan cara dilempar, yang diikuti tatapan garang Yuri.

Malamnya, Ji-su terpaksa membatalkan janji dengan Tae-hwa karena bagiannya diperintahkan untuk datang merayakan keberhasilan produk baru di sebuah pub. Dalam sebuah permainan, Ji-su kebagian berpasangan dengan pemuda itu, yang meneguk setiap arak yang disodorkan pada gadis itu saat kalah.

Saat berdansa, Song-ju ambruk dipelukan Ji-su dan meracau kalau dirinya hampir gila memikirkan Jung-suh. Tidak kuat menahan kesedihan, gadis itu lari meninggalkan Song-ju yang ambruk dilantai. Saat berlari dijalan, ia ditabrak sebuah mobil yang ternyata dikemudikan Yuri.

Melihat Ji-su yang ditabrak, Yuri bukannya minta maaf malah menatap sinis. Ia tidak sadar kalau peristiwa tersebut membuat ingatan Ji-su pulih, ia sadar kalau identitas diri yang sebenarnya adalah Jung-suh. Sambil menangis, Jung-suh berlari ke pantai dan mencari kalung pemberian Song-ju yang dibuangnya.

Gadis itu bertekad menceritakan semuanya pada Song-ju. Saat di lift, ia naik berbarengan dengan Mira yang datang sebagai undangan untuk peresmian lukisan taman bermain. Wanita setengah baya itu menatap sinis, namun wajahnya langsung berubah ketika Jung-suh memanggilnya dengan panggilan ibu tiri.

source